Terkait Selisih Pembayaran Listrik 2 MW di Tobasa

PLN Setor Rp10 M ke Rekening Pemkab

Jojor Marintan br Napitupulu

TOBASA - Setelah sekian lama menjadi pembahasan di DPRD, akhirnya PT PLN menyetor selisih harga jual listrik ke rekening Pemkab Toba Samosir. Dengan demikian, uang tersebut dipastikan akan masuk pada postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) 2012.

Hal itu dibenarkan Anggota DPRD Tobasa Jojor Marintan Napitupulu, (Panitia yang menangani Khusus Listrik 2 Megawatt). Jojor mengatakan, uang tersebut dibayarkan ke rekening pemkab di Bank Sumut sebesar Rp10.390.130.171.
“Ya, tadi sekitar pukul 09.00 Wib disetor ke rekening pemkab. Saya mendapat SMS dari PLN,” kata Jojor, Senin (24/9) di Balige.

Jojor menambahkan, dengan dibayarkannya uang tersebut telah menghapus semua keraguan masyarakat selama ini atas kinerja pansus. Masyarakat boleh bernafas lega, sebab uang tersebut dibayar sebelum penetapan APBD-P. Sehingga nantinya akan menambah pembiayaan pembangunan.

“Ini boleh dibilang “suntikan dana” bagi pembangunan Tobasa. Program-program yang sebelumnya tidak tertampung kemungkinan bisa terlaksana,” terangnya.

Sejak terbentuknya pansus hingga selesai masa kerja, kata Jojor, masih banyak tantangan yang dihadapi anggota Pansus. Mulai dari bolak balik Jakarta-Medan hingga tak jarang anggota Pansus harus gebrak meja dalam pertemuan yang diadakan bersama beberapa pihak. Bahkan disebut, Bupati Tobasa sempat membentak pegawai di kementerian ESDM.

“Bupati marah, karena tuntutan kita kurang ditanggapi. Tapi hasilnya bisa kita lihat sekarang,“ ujarnya tersenyum.

Sudung Siagian, warga Balige mengatakan, kinerja anggota pansus 2 MW patut diancungi jempol. Meski masa kerja mereka telah beberapa kali diperpanjang dimana pansus terbentuk pada Maret 2011, hal tersebut tidak lah sia sia. Kasus selisih harga ini seperti diketahui telah terjadi sejak 1982 ditandai dengan pembelian listrik oleh PT PLN dari PT Inalum.

“Setelah puluhan tahun masyarakat Porsea dan Balige merasa dirugikan atas pembelian tersebut. Jadi dalam hal ini (pansus) patut dibanggakan,” ujar Sudung.

Seperti diberitakan sebelumnya, proses terbentuknya pansus dilatarbelakangi oleh usaha menggali dan meneliti atas pemberian daya listrik di Porsea dan Balige. PT Indonesia Asahan Alumanium (PT Inalum) telah beroperasi kurang lebih selama 30 tahun. Hal itu terlihat dalam master agreement yang ditandatangani di Tokyo pada tanggal 7 Juli 1975.

Master agreement lampiran D nomor 6, disebutkan bahwa batas pengiriman energi listrik dari pembangkit adalah sebesar 275 KV busbar ke Kuala Tanjung. Pembangkit memiliki 2 (dua) jalur keluar energi listrik yaitu melalui peleburan aluminium dan untuk kebutuhan listrik pedesaan dengan kapasitas maksimum 2 MW di Porsea dan Balige. (cr-03)

Komentar