Transaksi Emas Sepi di Balige

(Foto: Hermanto Turnip)
Penjual emas saat menjajakan dagangannya.

TOBASA - Harga pasaran emas di Kecamatan Balige, Tobasa naik dari harga sebelumnya yakni Rp530.000 per gram menjadi Rp540.000. Hal ini mengakibatkan suasana jual beli emas di sejumlah toko mas tampak sepi. Para pedagang mengaku kesulitan menjual logam mulia itu.

“Tak seperti biasa saat onan (pekan) begini sudah banyak pengunjung, minimal melakukan pengecekan harga atau transaksi. Namun hingga jelang toko akan ditutup baru ada dua transaksi, dan itupun mereka menjual bukan membeli,” ujar H Amir Hasibuan pedangang emas yang berada di Pasar Balige, kemarin. Sepinya transaksi jual beli, kata Hasibuan bukan lantaran dipengaruhi situasi ekonomi masyarakat merosot.

Namun dikarenakan informasi melalui media massa yang diterima masyarakat yang menyebutkan bahwa harga emas masih akan mengalami fluktuasi. Sehingga masyarakat masih enggan menjual emas dengan harapan harga semakin naik. “Jadi mereka (masyarakat) masih menunggu harga yang lebih tinggi. Harga jual dan beli ada selisih sekitar Rp10.000 pr gram dan sudah termasuk ongkos atau upah kerja, ” paparnya.

Hampir sama juga dialami tiga toko emas lainnya seperti Amori, Rico dan FA Surabaya. Pemilik toko FA Surabaya, Sihotang, menilai untuk saat ini masyarakat lebih memilih untuk tidak melakukan transaksi. Jika ada pembelian emas itu dikarenakan untuk perlengkapan penting seperti pesta.  “Pelanggan kami membeli karena ada hal penting seperti pesta. Jadi bisa dibilang sejak usai lebaran minat masyarakat sepi,” ungkapnya.

Mariana Simanjuntak, warga Desa Hutagaol mengaku dalam hitungan tiga bulan dia mengantongi keuntungan sebanyak Rp30.000 per gram. Kata dia, sewaktu pembeliannya pada akhir Juni 2012 lalu masih pada harga Rp500.000 per gram, tetapi setelah dia menjual menjadi harga Rp530.000 per gram. ”Lumayan selisih harga ada tigapuluh ribu,” ujar Mariana sambil tersenyum.

Kenaikan harga pasaran emas ini ternyata dimanfaatkan baik oleh pelaku bisnis logam yang paling diminati masyarakat itu. Lenny Simangunsong misalnya, warga Balige yang sering melakukan transaksi jual beli ini mengaku bisnis emasnya meraih keuntungan yang berlipat. Sebelum lebaran lalu, dia membeli emas 30 gram dengan harga Rp510.000 per gram, tapi dengan kenaikan mencapai Rp530.000 per gram, dia buru-buru melepasnya. “Selisih harga itu menjadikan saya punya untung Rp600 ribu dalam beberapa bulan,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tobasa Jhonny Hutajulu mengatakan, kenaikan harga tersebut kemungkinan disebabkan banyaknya permintaan. Dia menjelaskan, pergerakan harga emas mulai terlihat sejak memasuki bulan pasca panen di bulan Juni dan mencapai puncak pada bulan Desember. Pada bulan bulan tersebut, masyarakat Batak masuk musim adat pernikahan. (cr-03/nasa)