Usai UN Pelajar Coret Seragam

[FOTO: DHEV BAKKARA]
Coret-coret: Usai UN siswa salami guru, ada juga yang coret seragam.

SIANTAR – Kebiasaan pelajar SMA sederajat usai mengikuti ujian nasional (UN) selalu mencoret-coret baju masih belum bisa dihilangkan. Dunia pendidikan tidak pernah menanggapi kebiasaan yang dilakukan anak sekolah tersebut.

Demikian dikemukakan Kepala SMK Surya Murni, Kota Siantar W Siahaan, di ruang kerjanya, Kamis (18/4) menanggapi masih marahnya pelajar yang mencoret seragam usai UN. Setiap tahunnya, dalam mengakhiri masa UN, di beberapa sekolah di Siantar-Simalungun selalu melakukan coret-coret seragam sekolah sebagai tanda perpisahan

Bahkan ada yang menggelar konvoi sepedamotor ke daerah pariwisata, seperti Danau Toba, Karang Anyer, Tiga Ras dan tempat lainnya. Menurut dia, pakaian sekolah yang dicoret-coret menggunakan cat piloks masih bisa digunakan oleh orang-orang yang tidak mampu membeli seragam sekolah. Sebaiknya pakaian tersebut disumbangkan kepada adik kelas ataupun keluarga kurang mampu.

Dia mengharapkan kepada seluruh kepala sekolah sebelum mengakhiri ujian, ada baiknya disampaikan pengumuman kepada siswa/i untuk tidak mencoret-coret seragam. “Sangat berharga sekali pakaian tersebut diberikan dan digunakan oleh orang-orang yang tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi,” sarannya.

Persoalan corat-coret baju seragam sekolah dan konvoi sepedamotor yang seringkali sangat mengganggu masyarakat. Masyarakat mempertanyakan, kenapa aksi coret seragam dan konvoi sepeda motor berlangsung usai UN.

W Siahaan menambahkan, para pelajar merasa bangga dan bersenang-senang boleh saja dimiliki setiap orang. Itu semua merupakan hak yang harus dihargai, seperti halnya pengumuman kelulusan yang  benar-benar menegangkan bagi siswa dan keluarganya.

Namun demikian, kata W Siahaan, pelampiasan atas kebanggaan itu sesungguhnya melekat suatu kewajiban untuk menghargai orang lain, sehingga pantas dilakukan secara proporsional atau dalam konteks manusia yang berbudaya. “Selayaknya tidak mengganggu orang lain dan justru sebaiknya, berbagi kasih dengan sesama atas kebanggaan yang diraihnya,” katanya.

Joshua (17) warga Jalan Medan, Kecamatan Siantar Martoba mengatakan, dia sudah punya rencana terkait seragam sekolah usai UN. Rencananya, dia akan minta rekan-rekannya untuk mengumpulkan seragam yang masih layak pakai. Kemudian disumbangkan kepada yang membutuhkan.

“Kami menolak coret seragam. Bersama beberapa teman, kami mulai kampanyekan untuk mengajak siswa lainnya untuk tidak mencoret baju,” ujar Joshua, salah seorang siswi SMA di Siantar. Frengky (17), warga Jalan DI Panjaitan, Kecamatan Siantar Marimbun mengatakan, selain mencoret seragam, dia juga menyoroti kebiasaan konvoi kendaraan bermotor usai UN.

Biasanya, ratusan bahkan ribuan siswa yang selesai melaksanakan UN, berkonvoi di jalan raya dengan sepedamotor. Hal ini bukannya tidak menimbulkan masalah. Bahkan tahun-tahun sebelumnya pernah memakan korban jiwa. Menurut Rio, hal seperti itu tidak boleh terjadi lagi usai UN kali ini.

“Tidak hanya sebelum ujian kita minta doa orangtua. Setelah ujian juga demikian, semoga lulus. Jadi kita akan ajak kawan-kawan segera pulang begitu ujian usai,” ujarnya. Sementara itu, Kabid Mendikti Disdik Siantar Meishara Uga mengatakan, setiap kali pembagian soal, pihaknya mengimbau kepada seluruh kepala sekolah untuk memberikan arahan kepada seluruh siswa untuk tidak melakukan aksi coret-coret.

“Kami terus menerus mengimbau kepada setiap kepala sekolah untuk menyarankan kepada siswa/i untuk tidak coret-coret seragam sekolah,” katanya. (mag-06)