Warga Protes Pembangunan SUTET

[Foto: Billy]
Puluhan warga bersama Muspika mengadakan pertemuan membahas pembangunan SUTET, Rabu (16/1).

SIMALUNGUN – Empat puluhan warga Dusun Simalungun Permai, Nagori Dolok Marlawan, Kecamatan Siantar, Simalungun, mendatangi kantor Kecamatan Siantar, Rabu (16/1). Mereka memerotes pendirian SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) milik PT PLN (Persero) yang dialirkan melalui kawasan pemukiman warga.

Warga khawatir jaringan sutet ini akan menyebabkan berbagai penyakit bagi warga, khususnya dampak dari frekuensi dan getaran listrik tegangan tinggi itu. Begitu sampai di kantor kecamatan, puluhan warga ini langsung menyampaikan keluhan dan permintaannya. Untuk mengatasi protes warga itu, Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan)  Siantar langsung memfasilitasi dengan mempertemukan warga dengan pimpinan PT PLN.

Pada pertemuan itu, warga mendesak agar proyek pendirian tiang SUTET dibatalkan. Selanjutnya warga juga meminta ganti rugi tanah. Parahnya, warga juga mengancam akan menumbangkan SUTET, jika tetap dilakukan pembangunan tanpa izin warga.

Sebelumnya, masyarakat Simalungun Permai ini juga sudah melayangkan surat keluhan mereka ke Pemkab Simaungun dan Polres Simalungun. Dalam surat itu, mereka menjabarkan dampak negatif dari pendirian tian SUTET.

Menurut warga TR Matondang (51) Rabu (16/1), aksi protes yang mereka lakukan ini merupakan bentuk kekesalan warga terkait pendirian SUTET. Selama ini, pihak PT PLN tidak pernah melakukan sosialisasi soal pendirian tiang bertegangan tinggi ini.

”Kenapa demi keuntungan PT PLN, kami yang dikorbankan. Sementara kami juga pelanggan resmi PLN. Kalau mereka tetap mendirikan proyek itu, kami akan menumbangkannya,” katanya yang diamini warga lain.

Ia menambahkan, menurut informasi yang mereka dapat, jaringan SUTET ini bisa menyebabkan kemandulan, kanker dan jantung. Bahkan warga mengaku siap hengkang dari kediaman mereka masing-masing jika pihak PLN bersedia mengganti rugi tanah dan bangunan rumah mereka.

”Menurut kami, lebih baik mereka membeli tanah kami. Supaya mereka nyaman bekerja dan kami pun aman dari efek negatif SUTET itu. Namun, harganya harus sesuai pasaran,” ujarnya.

Sementara informasi yang beredar, proyek tersebut dikerjakan rekanan PT Twins dari Jakarta. Rencananya untuk wilayah Sumatera Utara, PT PLN (Persero) akan membangun 400 SUTET dan proyek itu sedang berjalan.

Sementara untuk Nagori Dolok Marlawan, PT PLN hanya membangun tiga SUTET. Mega proyek itu diharapkan mampu mengatasi pasokan listrik untuk kawasan Siantar dan Simalungun, dengan mengambil aliran induk dari Tebing Tinggi.

Sementara Manajer Bidang Hukum, Komunikasi dan Pertanahan PT PLN Heryawan menyebutkan, selama ini semua prosedur pendirian SUTET sudah melalui izin resmi dari Gubernur Sumetera Utara. Secara teknis, pihak perusahaan BUMN ini sudah melalui prosedur yang jelas.

”Pada dasarnya kami siap mengganti rugi. Hanya saja, kalau warga mempermasalahkan izin, kami sudah punya izin dari Gubsu langsung. Proyek ini diharapkan mampu mengatasi defisit listrik di Simalungun dengan jaringan listrik yang besar,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, saat ini pihaknya menargetkan proyek segera selesai. Jika pun warga tidak memberikan izin pendirian SUTET ini, pihaknya akan terus melakukan mediasi kepada warga.
”Kami akan tetap berupaya supaya proyek ini segera dibangun. Kami juga akan terus melakukan mediasi dan sosialisasi dengan warga,” ujarnya lagi.

Terpisah, Camat Siantar Sabmenta Pasaribu saat ditemui METRO mengatakan, ia meminta agar pihak PT PLN melakukan sosialisai ulang untuk pendirian SUTET ini. Setelah mendapat persetujuan dari warga, pihaknya akan meneruskannya ke BPPT (Badan Pelayanan Perizinan Terpadu) Simalungun.

”Semuanya harus melalui prosedur yang jelas. Jika nantinya proyek ini diklaim warga untuk tidak dibangun, maka kita akan coba gelar pertemuan lagi. Kita akan lakukan pertemuan serupa setelah PLN menanggapinya,” katanya singkat. (mag-02)