Winda Sari Dibunuh Karena Cinta Ditolak

Pembunuh Siswi Cantik Ditangkap di Medan.

[FOTO: Susilawadi]
Nando Malau, pelaku pembunuhan yang disertai perampokan dan pemerkosan terhadap Winda Sari br Manurung, siswi SMKN 1 Kisaran. Nando ditangkap, dari kawasan Kampung Durian Medan, Minggu (21/4) malam.

KISARAN – Kecurigaan keluarga Winda Sari br Manurung (18) terbukti. Ternyata, Winda dibunuh dan dibakar oleh orang yang terakhir bersamanya, Fernando Malau alias Nando (20). Nando nekat membunuh Winda karena cintanya pernah ditolak si kembang desa itu.

Kepada polisi dan wartawan yang mewawancarainya, Nando mengaku memang berniat menghabisi nyawa Winda, karena kecewa cintanya ditolak gadis ayu yang masih tercatat sebagai siswi SMK Negeri 1 Kisaran tersebut. “Memang niatnya mau membunuh, Pak,” katanya. Kepada METRO, Nando mengaku, meski rumahnya hanya berjarak 100 meter dari kediaman Winda, mereka baru dekat sekitar delapan bulan silam secara tak sengaja.

Sejak itu, sebagai seorang pria, Nando mengaku jatuh cinta kepada Winda. Paras Winda memang ayu sehingga dia dikenal sebagai kembang desa. “Suka aku sama dia, Bang. Orangnya cantik, baik lagi,” tukas Nando. Seiring waktu, hubungan keduanya semakin akrab, meskipun di antara mereka tidak ada kesepakatan untuk pacaran.

Menurut Nando, sekitar tiga bulan lalu, dia sempat mengutarakan isi hatinya kepada Winda. Meskipun dia sadar saat itu dia masih menjalin hubungan dengan seorang wanita di Pekanbaru, tempat dia merantau sejak tamat sekolah dua tahun lalu. “Udah kubilang aku suka sama dia. Tapi ditolak, karena dia tau aku masih ada pacar waktu itu,” ujarnya tenang.

Kronologis

Meski cintanya ditolak, hubungan Nando dengan Winda tetap akrab. Keduanya semakin karib. Winda sempat meminta agar Nando menganggapnya sebagai adik. Hanya saja, Nando mengaku tetap memendam rasa kepada gadis itu. Bahkan, rasa cinta pula yang membuatnya tak kuasa menolak ketika gadis itu meminta bantuannya. Walau sadar pemberiannya hanya diartikan sebagai perhatian seorang abang kepada adik.

“Kadang dia minta pulsa. Uang sekolahnya pun pernah kukirim. Katanya, uang sekolah dari orangtuanya sudah dia habiskan,” akunya. Lambat laun, karena cintanya tak kunjung diterima, Nando kesal. Hanya saja, bungsu dari tiga bersaudara, anak pasangan almarhum Sabam Malau dan Bidan Darmi br Sitompul ini masih mampu mengendalikan sikapnya. Hingga akhirnya hari nahas itu tiba.

Jumat (19/4) sekitar pukul 16.00 WIB, Nando menghubungi ponsel Winda dan mengajak gadis itu bertemu. Winda yang saat itu berada di Kisaran, setelah batal berangkat ke Tanjungbalai bersama teman-temannya, meminta Nando menemuinya di sekitar Stadion Mutiara Kisaran, Kelurahan Mutiara, Kecamatan Kota Kisaran Timur.

“Aku telepon, ngajak ketemu. Katanya dia di Kisaran, terus aku susul ke sana,” ujar Nando, yang mengaku menumpang becak bermotor untuk menemui Winda di Kisaran.

Sesuai pengakuan Nando, mereka bertemu di areal taman komplek Stadion Mutiara. Beberapa saat berselang, keduanya pergi berboncengan mengendarai sepedamotor Honda Supra X 125 BK 4902 XN milik Winda. Sempat mengitari sejumlah ruas jalan di Kisaran, mereka lalu mengarah pulang ke kawasan Rawang, desa mereka.

Dalam perjalanan pulang, rencana yang telah dipersiapkannya lantas dilakukan. Setelah melintasi rel kereta api jurusan Kisaran-Tanjungbalai, sepedamotor diarahkan ke tengah areal perkebunan karet PT Bakrie Sumatra Plantation (BSP). Di areal perkebunan yang sepi,  Nando mencoba menyetubuhi korban.

Karena korban melawan, pemuda yang mengaku bekerja sebagai karyawan di salah satu hotel di Pekanbaru ini lantas mencekik leher korban hingga lemas. Setelah korban lemas, pakaiannya dilucuti, lalu disetubuhi.

“Sempat melawan dia, aku dicakarnya,” kata Nando, sambil menunjukkan luka di wajahnya.

Setelah menyetubuhi korban, Nando kembali memasangkan celana jeans korban yang sempat dilucutinya. Namun, dia lupa memasangkan kembali celana dalam korban.

“Pas udah selesai, kulihat dia nggak bergerak lagi. Untuk menghilangkan jejak, aku beli bensin eceran di dekat SPMA Rawang, terus kembali ke lokasi. Badan dia kututupi pakai daun karet, kusiram bensin, baru kubakar,” cetus Nando, tetap tenang.

[Foto: Susilawadi]
Mayat Winda Sari boru Manurung saat ditemukan dilokasi kejadian.

Sebelum api padam, Nando sudah meninggalkan lokasi kejadian dengan membawa sepedamotor dan ponsel Samsung milik korban. Dia meluncur ke Kisaran.

Saat ditanya mengenai pesan singkat yang dikirim kepada Sri Endang dari ponsel korban, Nando mengaku dia mengirimkan pesan itu sebagai cara untuk menyempurnakan alibinya.

“Malam itu, aku juga sempat bikin status di FB, nanya keberadaan dia (korban, red). Maksudnya biar nggak ada yang curiga,” kata pemilik account Facebook Fernando Siappudan Malau ini.

Ditanya lebih lanjut, Nando mengaku berada di Kisaran hingga Sabtu (20/4) pukul 14.00 WIB. Dia berangkat ke Medan menjelang petang, menumpang bus setelah menjual sepedamotor milik korban kepada Lasprianto alias Apot, warga Jalan Mangun Sarkoro seharga Rp700 ribu. Apot sendiri telah diamankan polisi dengan tuduhan menadah barang hasil kejahatan.

Diberitakan sebelumnya, Winda ditemukan tewas di areal perkebunan karet PT BSP, tepatnya di kawasan Mandoran 4, Ancak B, Divisi II Serbangan Kisaran, Minggu (21/4) sekira pukul 06.00 WIB. Tubuh gadis cantik yang masih tercatat sebagai siswi kelas XII Jurusan Tata Busana 2 SMK Negeri 1 Kisaran ini gosong karena dibakar. Diketahui, korban menghilang sejak Jumat (19/4).

Mayat Winda kali pertama ditemukan Sumarwan (49), buruh deres karet PT BSP, saat pria itu melakukan aktivitasnya. Sumarwan yang kaget, lantas melaporkan penemuan itu kepada rekannya, yang kemudian meneruskan kepada Toga Simamora, selaku Manajer Kebun Serbangan.

“Yang menemukan tukang deres, terus dilapor ke saya, lalu saya hubungi polisi,” jelas Toga, di lokasi penemuan. Dalam hitungan menit, lokasi penemuan mayat diramaikan karyawan dan warga. Dari warga juga identitas korban diketahui.

“Pas dicek, ada yang kenal. Ternyata, korban anak M Manurung (49) dan S br Sitorus (48). Alamatnya di Desa Rawang Baru, tak jauh dari lokasi ini,” tegas Toga.

Jenazah korban ditemukan dalam kondisi tubuh telentang dan tangan menengadah ke atas. Korban mengenakan celana jeans biru, dipadu kaos oblong bercorak liris hitam putih.

Sehelai celana dalam kuning, yang diduga milik korban, ditemukan pada jarak sekitar tiga meter dari posisi tubuh korban tergeletak. Sementara, ada sejumlah luka bakar di tubuh korban, yakni di wajah, pangkal tangan, kaki kiri dan perut.

Namun sebuah cincin emas masih ditemukan melingkar di jari manis tangan kirinya. Indikasi perampokan pun cukup memungkinkan dalam kasus ini. Sebab sepedamotor dan HP korban raib. (sus)

Komentar