Kawasan Eko Wisata Aek Nauli Kedatangan 4 Ekor Gajah

Gajah dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Holiday Resort, Aek Raso, Labuhan Batu Selatan, tiba di kawasan eko wisata Elephant Conservation Camp di Aek nauli, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Jumat (17/11).
RamsianaGultom/MetroSiantar
Gajah dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Holiday Resort, Aek Raso, Labuhan Batu Selatan, tiba di kawasan eko wisata Elephant Conservation Camp di Aek nauli, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Jumat (17/11).

MetroSiantar.com-Empat ekor gajah dewasa tiba di kawasan eko wisata Elephant

Conservation Camp di Aek Nauli, Nagori Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Jumat (17/11) sekira Pukul 08.00 WIB. Tiga ekor gajah betina dewasa dan  satu ekor gajah jantan.

Kepala Bidang BKSDA Wilayah II Seno Pramudita mengatakan, ke empat ekor gajah yang baru tiba di Aek Nauli ini merupakan gajah milik BKSDA yang selama ini dilatih di Pusat Latihan Gajah (PLG) Holiday Resort, Aek Raso, Labuhan Batu Selatan. Kedatang gajah ini lebih cepat satu jam dari jadwal yang diperkirakan sekira Pukul 09.00 Wib.  Dalam pengembangan  Kawasan Aek Nauli Elephant Conservation Camp ini, pihaknya telah bekerja sama dengan Balai Litbang sebagai penyedia lahan dan akan berkoordinasi dengan Pemda terkait kerjasama dalam hal pengembangan Kawasan Danau Toba  menuju destinasi unggulan wisata Indonesia.

“ Tentu kami butuh dukungan dari semua pihak untuk memajukan Kawasan Aek Nauli Elephant Conservation Camp ini, tak terlepas dukungan dari masyarakat sekitar sebagai salah satu mitra kami,” tutur Seno.

Terkait pengelolaan dan management kawasan , Seno menegaskan, pihaknya akan merumuskan kembali bentuk-bentuk regulasi yang akan diberlakukan. Itupun jika kawasan ini sudah diresmikan dan dibuka untuk umum.

“Sekarang kita masih berbenah untuk menyelesaikan berbagai bangunan fisik yang belum selesai, setelah diresmikan nanti baru kita rumuskan regulasinya,” terang Seno.

Dijelaskan Seno, pembangunan Kawasan Aek Nauli Elephant Conservation Camp ini dananya bersumber dari APBN BKSDA Sumut tahun 2017 berkisar Rp5 miliar.

Kepala BKSDA Sumut Hotmauli Sianturi yang turut hadir di Aek Nauli menambahkan, kehadiran kawasan ini selain akan menjadi salah satu destinasi wisata pengembangan Danau Toba, diharapkan akan menjadi rumah gajah yang benar-benar bisa dijadikan sebagai wilayah konservasi gajah.

“Kembalinya gajah kehabitatnya ini diharapkan dapat mengembangkan jumlah kuantitas gajah Sumatera sebagai salah satu hewan yang dilindungi,”katanya.

Hotmauli berharap, ke empat gajah yang baru tiba ini segera menyesuaikan diri dengan kondisi alam dan cuaca yang baru di Aek Nauli.

“ Saya yakin, gajah gajah ini sangat senang kembali ke alam bebas. Welcome home,” ujar Hotmauli lalu mengelus elus belalai seekor gajah yang diberi nama Ester, sembari menyuguhkan beberapa biji pisang segar ke mulut Ester.

Ditambahkan Hotmauli, kehadiran Kawasan Aek Nauli Elephant Conservation Camp ini akan menjadi salah satu program edukasi bagi masyarakat luas dan bagi para pelajar untuk mengenal lebih jauh dan menyayangi gajah yang selama ini cukup jauh dari jangkauan masyarakat sekitaran Danau Toba.

“ Hiburan atau atraksi yang akan ditampilkan gajah yang telah terlatih ini, akan lebih bersifat edukasi. Sehingga keberadaan manusia secara dekat dengan

gajah ini  tidak akan mengganggu mental gajah itu sendiri,” terang Hotmauli.

Camat Girsang Sipangan Bolon James Siahaan  yang turut hadir di Aek

Nauli  mengatakan, pihaknya selaku perwakilan pemerintah daerah

menyambut baik dan sangat mendukung keberadaan kawasan ini. Dia juga

berharap dengan dibukanya Kawasan Aek Nauli Elephant Conservation Camp untuk umum, akan mendongkrak peningkatan jumlah pengunjung ke Danau Toba. James menyarankan, pengelola membuka kerja sama dengan hotel-hotel  yang ada di sekitar kawasan Danau Toba. Kehadiran kawasan ini akan memberikan kontribusi positif bagi  masyarakat sekitar termasuk terbukanya lapangan kerja serta pengembangan ekonomi kreatif bagi masyarakat sekitar.

“Efek positif akan kehadiran kawasan ini sangat kami harapkan, termasuk untuk memulihkan citra Danau Toba menjadi lebih baik lagi,” harap James.

Selain ke empat gajah tersebut, BKSDA juga turut membawa 6 orang pawang gajah atau yang biasa disebut Mahout. Para mahout ini nantinya akan melatih dan memelihara ke empat ekor gajah di taman ini. BKSDA juga menurunkan dokter hewan spesialis gajah Mr Anhard, yang akan bertanggungjawab menjaga kesehatan gajah-gajah di taman ini. 

Salah seorang Mahout bernama Yopi (20), mengatakan ke empat ekor gajah ini

sudah terlatih dan memiliki kemampuan mengalungkan bunga, bermain bola, mengalungkan ulos, dan mampu bergaya bak foto model. Ke empatnya juga sudah memiliki nama, yakni Ester, Siti, Finny dan Figo sigajah jantan berusia 11 tahun. Figo merupakan gajah termuda.

Pantauan kru Koran ini, sesampainya gajah di dalam kawasan Elephant Conservation Camp di Aek nauli ini, Pangulu Sibaganding Martino Wandi Bakkara terlebih dahulu mengadakan ritual secara adat Batak secara singkat.

Ritual ini dilakukan dengan menyampaikan sepucuk sirih, sebagai penghormatan kepada seluruh penghuni kawasan hutan yang diyakini secara spiritual memiliki pengaruh dan kekuatan gaib.

“Kita orang Batak punya tradisi dan budaya, kita hanya melakukannya dengan tujuan kebaikan,” tutur Bakkara. (ana/esa/ms)