(Bang) Iwan ‘Tanah Jawa’ Yang Berdedikasi Itu

Foto almarhum Irwansyah semasa hidup

Catatan: Pala MD Silaban

(Bang) Iwan ‘Tanah Jawa’. Begitu kami menyebutnya. Kami memiliki alasan yang kuat mengapa menyematkan kata ‘Tanah Jawa’ di belakang namanya. Bukan sekadar karena dia bermukim di Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, tepatnya di Nagori Baja Dolok. Tapi, ada kekuatan besar di balik kata itu yang melekat pada diri pemilik nama asli Irwansyah ini.

Kekuatan besar, karena memang abang yang ligat ini punya pengaruh besar di salah satu kecamatan dengan produsen beras tertinggi di Kabupaten Simalungun ini. Tentu, pengaruh itu muncul karena dedikasinya yang begitu tinggi atas pekerjaannya.

Dia bekerja sebagai wartawan di Harian Metro Siantar yang hingga ujung hidupnya dia tetap setia melakoninya. Dia juga pernah jadi seorang guru di Yayasan Perguruan Nusantara Kecamatan Tanah Jawa. Dia begitu dekat dengan anak didiknya, pertanda dia memang selalu menempatkan dirinya sebagai sahabat atas semua orang di sekitarnya. Usia, profesi, agama, suku dan hal-hal rasialis lainnya tak jadi pembatas baginya untuk dekat dengan orang-orang di sekelilingnya.

Dia juga seorang pedagang, yang begitu gigih menjalankan usahanya tanpa mengenal usia maupun medan yang dijalaninya. Ya, jalan besar Siantar-Sidamanik menuju rumahnya yang juga warung kelontongnya, harus melalui jalan berbatu sejauh 3 km. Dia yang sudah 53 tahun harus melalui itu dengan sepedamotor bebek, dengan jerigen di depannya, atau terkadang diikat di belakang sepedamotornya, melalui jalan berbatu itu.

Selain profesi-profesi ‘berat’ itu, dia juga seorang pecinta sepakbola. Di situ lagi satu dedikasi yang membuat saya bangga berteman dengannya. Jadi, dia tak hanya sekadar pecinta bola yang hanya mampu mengelu-elukan pemain pujaannya, lalu akan semakin cinta dengan tim itu ketika dia juga menang taruhan, tapi cinta bang Iwan ‘Tanah Jawa’ ini menyatakannya dengan yurut membesarkan sepakbola itu.

Dia memberikan waktunya yang super sibuk untuk mengurus sekolah sepakbola dan tim sepakbola kebanggaan Tanah Jawa. Dia tak pernah lengah mengurus sekolah sepakbola itu. Dia selalu menyempatkan diri datang ke Lapangan Sepakbola Balimbingan, menyapa para harapan bangsa, dan tentu, rela mengeluarkan dana dari kantong pribadinya untuk mengurus calon-calon pemain bintang sepakbola Indonesia, dan juga dunia ini.

Dia begitu serius. Dedikasinya tak pernah pudar. Bahkan, saya terkadang heran bila melihat abang yang periang ini masih saja bertahan di kantor di Jalan Sang Naualuh Kota Siantar, hingga jam sebelas malam.

“Ada berita bagus, Bos. Makanya gak enak kalau ngetiknya di warnet. Payah awak nanti ditanya-tanyai lewat telepon. Mending langsung ke sini aja,” ujarnya ketika itu, menjawab pertanyaan kawan-kawan sekantor yang cukup khawatir melihatnya yang harus pulang menembus malam, bahkan kadang dalam guyuran hujan, ke Tanah Jawa yang sekitar setengah jam lebih waktu tempuhnya.

Inilah bukti yang tak bisa terbantahkan bahwa dia benar-benar seorang pejuang. “Awak kan masih muda, Bos. Masih 17 tahun ke samping,” katanya ketika kawan-kawan mempersoalkan usianya yang tak lagi muda.

Ehm, usia. Mungkin itu tak jadi perkara baginya dalam berjuang. Usianya boleh 50an tahun, terpaut jauh dari saya yang hanya 30an tahun, tapi kobaran semangatnya seperti yang sering ia candakan: 17 tahun ke samping.

Dan, berkat dedikasi, kesungguhan, keceriaan, ramah dan suka bercanda yang dia miliki itu, maka (Bang) Iwan Tanah Jawa pun begitu popular di kecamatan tersebut, bahkan sampai ke kecamatan tetangga, seperti Hatonduhan, Hutabayu Raja, Bosar Maligas, bahkan sebagian besar wilayah Kabupaten Simalungun.

Apalagi bagi kaum-kaum ‘elite politik’ Siantar-Simalungun, sesama jurnalis, pecinta dan pengurus organisasi sepakbola, kaum muda, anak-anak, ibu-ibu pengajian, maupun preman-preman jalanan, namanya sangat dikenal.

“Ooo, si Iwan itu. Kawanku itu.” Begitulah kebanyakan jawaban orang-orang ketika saya tanyakan apakah mengenal (Bang) Iwan ‘Tanah Jawa’ ini. Beberapa pangulu nagori yang pernah berkomunikasi dengan saya mengenal dirinya dengan jelas. Para ketua dan pengurus organisasi pemuda yang pernah berkomunikasi dengan saya juga mengaku mengenal baik abang yang gampang cair ini.

Tapi, toh kemampuan fisik mengakhiri itu semua. Ketika waktu itu tiba, dia sama sekali tak berdaya. Harus dipapah ketika hendak mengayunkan langkah yang pada akhirnya masuk dalam daftar pasien di Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar.

Tatapannya lemah. Rasanya, ada beban yang begitu berat digendongnya, hingga mengangkat kepala pun ia tak mampu. Abang itu hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahnya yang telah mengkerut, tanpa cahaya. Dan, pada akhirnya dia harus menghadap Sang Pencipta.

Sedih rasanya harus kehilangan Bang Iwan ‘Tanah Jawa’. Banyak kenangan yang akan jadi ingatan bagi kami yang masih muda, untuk tahu bagaimana menyikapi hidup dan pekerjaan dan berbagai kerumitan yang mengisi hari-hari kami. Abang mampu melakukannya, dengan semangat berkobar, tanpa jidat mengkerut, mengesampingkan usia dan keterbatasan-keterbatasan lainnya, demi tuntutan pekerjaan yang membentang.

Selamat jalan, (Bang) Iwan ‘Tanah Jawa’. Semoga semangatmu, dedikasimu, keceriaanmu, selalu melekat dalam diri kami yang pernah jadi teman baikmu, sahabatmu, rekan kerjamu, teman diskusimu. Terima kasih, kau telah meninggalkan pesan berharga pada kami, bahwa hidup semestinya memang begitu. (**)