Ketika Moeldoko Pulang Kampung, Nyekar Jadi Tanda Promosi Jabatan

M FIKRI ZULFIKAR
BANGGA: Muhammad Sujak menunjukkan foto-foto Moeldoko, adiknya, yang terpajang di rumahnya, Desa Pesing, Kecamatan Purwoasri.

Sebulan lalu, mantan Panglima TNI Jendral TNI (Purn) Moeldoko pulang kampung. Di tanah kelahirannya, Desa Pesing, Kecamatan Purwoasri, ia nyekar.

Sekitar pukul 07.00, Muhammad Sujak yang sedang menonton televisi mendapat telepon dari Samrotul Fuad, anaknya yang bekerja di Bandung. Sesaat setelah menutup telepon, pria ini langsung mengganti channel TV seperti saran anaknya.

Namun siaran yang dinanti-nanti belumlah mulai. Sujak rupanya ingin melihat adik ragilnya, Moeldoko, dilantik Presiden Joko Widodo menjadi Kepala Staf Kepresidenan. Namun acara baru disiarkan langsung sekitar pukul 09.00.

Saat ditemui di rumahnya di Desa Pesing, Purwoasri, kemarin, Sujak mengaku, masih ingat benar dengan adik bungsunya itu. Apalagi di rumah yang dihuninya juga menjadi rumah masa kecil mantan Panglima TNI ini.

Sejak kecil hingga masa mudanya, hubungan Sujak dengan Moeldoko memang cukup erat. Dia mengaku, bangga dengan adik bungsunya dari 12 bersaudara itu masih dibutuhkan oleh negara.

“Ya ingat betul sejak kecil adik saya selalu bantu bapak saya bertani di sawah. Memang juga keras didikan bapak saya itu,” ujar Sujak yang merupakan anak ketiga dari pasangan Mustaman dan Masfuah ini.

Dia mengaku, baru tahu adiknya akan dilantik menggantikan Teten Masduki menjadi koordinator staf khusus Presiden, kemarin pagi (17/1). Namun begitu, Sujak sudah curiga sejak sebulan lalu.

Saat itu, tiba-tiba adiknya pulang. Padahal sebulan sebelumnya Moeldoko juga baru berkunjung ke Purwoasri. Sujak mengungkapkan, adiknya memang jarang sekali sambang kampung halamannya. Kecuali saat orang tuanya masih hidup, setiap hari raya pasti pulang.

“Terlebih kecurigaan saya menguat saat bulan lalu dia pulang dan nyekar ke makam orang tua kami,” ungkapnya.

Sujak sudah hafal dengan adiknya, walaupun tidak pernah diberitahu. Setiap datang dan nyekar ke makam orang tuanya, Moeldoko akan mendapat promosi jabatan. “Kalau setiap nyekar ya tidak pernah bilang mau jadi apa atau jabat apa. Tapi tiba-tiba disiarkan di TV adik saya mendapat jabatan baru,” urai pria yang mengaku berumur 80 tahun ini.

Bulan lalu setelah nyekar, Moeldoko yang datang dengan Koesni Harningsih, istrinya, itu sempat bertanya pada Sujak. Dia menanyakan, makam kakek dan neneknya di Desa Jantok, Kecamatan Purwoasri. “Saat saya kasih tahu makamnya di tetangga desa kami. Dia (Moeldoko, Red) langsung nyekar ke sana,” imbuhnya.

Menurut Sujak, adiknya tidak pernah bercerita akan dipromosikan menjadi apa saat hendak dilantik. “Kalau mau pulang, saya malah tidak boleh bilang siapa-siapa. Karena kalau tersiar pasti akan banyak tamu datang ke sini,” terang kakak Moeldoko tertua yang masih hidup ini. Kakak pertama dan keduanya sudah meninggal.

Setiap kedatangan Moeldoko ke kampung halaman dan nyekar ke makam orang tuanya menjadi ciri khas penanda Sujak saat adiknya akan menjabat posisi baru di pemerintahan. Terlebih setiap pulang (di Desa Pesing, Red) kerap hanya singkat-singkat saja. Hanya dua jam atau empat jam saja. Apalagi saat jadi Panglima TNI dulu. “Memang dia orang sibuk, kami keluarganya pun memaklumi,” tutur Sujak.

Sujak menerangkan, saat ada acara bantuan benih Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di Jawa Timur, adiknya yang menjabat ketua umum HKTI kerap mampir ke rumahnya. “Juga saat memberi bantuan maupun peresmian pembangunan-pembangunan infrastruktur yang dia sokong di sini dia juga mampir ke rumah biasanya,” ungkapnya.

Beberapa infrastruktur seperti jembatan di Desa Pesing terlihat ada nama Jendral (Purn) Moeldoko yang merupakan pemrakarsa renovasi dan pelebarannya. Sujak menerangkan bahwa di SDN 1 Jantok yang merupakan tempat sekolah Moeldoko saat kecil pun dibuatkan musala olehnya. “Yang bangun musala di SD itu ya adik saya,” terang Sujak. (rk/fiz/die/JPR)

Loading...