Nyak Sandang, Penyumbang Pesawat RI Pertama

Murti Ali
Nyak Sandang, pemilik bukti obligasi sumbangan pembelian pesawat Dakota RI-001.

Relakan Sepetak Tanah, Berharap Bisa Merasakan Naik Pesawat

JIKA sudah cinta, apalagi demi bangsa dan negara, jangankan menyumbangkan harta benda, nyawa pun siap dikorbankan demi kepentingan Ibu Pertiwi. Begitulah kiranya prinsip yang disandang oleh Nyak Sandang kepada Indonesia kala itu, menyumbangkan uangnya sebanyak Rp 100 guna membantu pembelian pesawat pertama Indonesia. Untuk diketahui pesawat RI-001 yang melegenda itu ternyata dihasilkan dari sumbangan warga.

Nyak Sandang ialah satu dari sekian warga Aceh yang ikut menyumbang. Lelaki ini lahir pada 4 Februari 1927 silam di Gampong Mukhan, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh.

Sebelum pesawat berhasil dibeli, kala itu Gubernur Aceh Daud Beureueh menyerukan agar masyarakat memberikan sumbangsihnya kepada Indonesia yang baru merdeka. Imbauan itu pun digelorakan oleh ulama-ulama Lamno, Aceh Jaya dan masyarakat pun mengikuti. Akhirnya Nyak Sanda pun menyumbang, meski harus merelakan sepetak tanah.

Nyak Sandang mengungkapkan, alasan paling mendasar dirinya menyumbang harta karena sudah sangat cinta pada Indonesia dan Presiden pertama RI Indonesia. Ia rela mengorbankan apapun. Hal ini diutarakannya ketika JawaPos.com berkunjung ke kediaamannya di Gampong Lhuet, Kecamatan Jaya, Sabtu (10/3).

“Saya sangat cinta kepada Soekarno dan Indonesia. Sebab, Bung Karno sangat cinta kepada Aceh,” ungkap Nyak Sandang bersemangat.

Menurut Ayah, sapaan Nyak Sandang, masyarakat Aceh cinta kepada sang proklamator ketika itu karena Soekarno begitu dekat dengan ulama-ulama Aceh. Kedekatan itu pun berbuah dengan terjalinnya hubungan yang sangat harmonis. Hingga akhirnya Bung Karno tak sungkan menuturkan keinginannya agar Indonesia memiliki pesawat dan meminta bantuan Rakyat Aceh melalui Daud Beureueh.

“Bung Karno sangat cinta kepada Aceh. Ia pernah dipenjara Belanda di Pulau Bangka, setelah keluar dia terlebih dulu datang ke Aceh menjumpai ulama. Tetap Aceh pertama,” jelas Ayah.

Apa yang dilakukan Soekarno semakin menumbuhkan dan meningkatkan kecintaan rakyat Aceh kepadanya. Tak terkecuali Nyak Sandang. Di sisi lain, bantuan Ayah berupa uang dengan bukti obligasi pada pemerintah juga bertujuan membantu perekonomian ketika itu. Apalagi Indonesia baru beberapa tahun merdeka.

“Rakyat ketika itu merugi, karena hasil bumi tidak bisa dibawa dan dijual kemana. Hasil bumi itu di antaranya kopi, karet, cengkeh dan lainnya,” imbuhnya.

Beberapa tahun kemudian, Indonesia akhirnya memiliki pesawat pertama. Pesawat itu dibeli Bung Karno menggunakan dana yang disumbangkan rakyat Aceh. Kabar bahagia itu pun sampai ke telinga Ayah. Ia sangat senang dan bangga karena akhirnya Indonesia memiliki pesawat hasil sumbangsih rakyat.

“Kenapa saya gembira melihat pesawat itu, pertama negara kita sudah merdeka. Kedua karena saya ikut membantu membelinya. Sudah tercapai cita-cita kita semua. Saya sangat bersemangat,” tutur suami Fatimah ini.

Suatu saat Bung Karno melawat ke Aceh, tepatnya di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat. Burung besi itu mengudara dan mendarat di sana. Sebelum RI-001 landing di bandara, Ayah sempat melihatnya melintasi wilayah Aceh Jaya. Karena senang dan bangga ia sempat melambai-lambaikan tangannya.

“Kami menunjuk-nunjuk pesawat. Tapi saya tidak pernah melihatnya dengan dekat. Sampai sekarang tidak pernah, bahkan replikanya di Banda Aceh juga tidak,” celutuknya sambil tersenyum.

Ia menambahakan, di masa itu setiap warga yang menyumbang akan dihargai sebagai obligasi. Indonesia berhutang pada rakyatnya. Kerena menyumbang uang, lelaki yang kini telah memasuki usia renta itu masih menyimpan buktinya semacam kuitansi dengan utuh dan baik. Bukti ia jaga baik-baik sejak 1950 dan hingga kini, sudah 68 tahun lamanya.

“Meskipun dianggap obligasi hanya sedikit menyelamatkannya. Kalau saya sudah menyimpannya puluhan tahun,” cerita lelaki 91 tahun itu.

Ia berharap suatu ketika bisa melihat langsung pesawat dan menaikinya. Hasrat itu sudah sejak lama terbesit di lubuk hatinya. Namun, apa boleh buat di usianya yang kini hampir seabad, angan-angannya tersebut belum juga kesampaian.(mal/JPC)

Loading...