Naik Vespa, Bu Guru Mampu Keliling Indonesia

KELILING INDONESIA: Mabu alias Rucke Rukmawati saat menjelajahi Pulau Sumatera bersama Vespa kesayangannya, VBB 1964.

KALAU rencana ke Papua setelah Lebaran kelak terlaksana, Rucke Rukmawati berarti telah bervespa ke wilayah ujung barat dan timur Indonesia. Tiap kali tur selalu bawa donasi atau barang yang bermanfaat bagi warga di tempat tujuan.

FEBRY FERDIAN, Bandung

Hari-hari ini hingga ke Lebaran nanti adalah hari-hari yang sibuk bagi Rucke Rukmawati. Berkeliling mengumpulkan donasi, menyetel Vespa, dan menyiapkan onderdil, selain tentu saja jadwal tetapnya mengajar.

Maklum, selepas Lebaran, bersama suami, Cakra Budi, guru seni rupa SMAN 15 Bandung itu bakal mewujudkan impian touring ke Papua. “Mudah-mudahan bisa terlaksana,” kata perempuan 57 tahun tersebut kepada Jawa Pos yang menemuinya di kediamannya di Bandung Senin lalu (30/4).

Kalau betul terlaksana, artinya, perempuan 57 tahun itu sudah menjelajah wilayah paling barat dan ujung timur Indonesia. Sebab, 18 tahun silam, dia sudah lebih dulu touring ke Aceh pada Desember 2017.

Dan, di antara kurun waktu itu, dia juga menjelajah berbagai kota di Jawa dan Sumatera. Semua dengan motor.

“Semua jenis motor sudah saya coba. Kami sekeluarga memang suka naik motor dari dulu,” kata ibu dua anak yang akrab disapa Mabu (Mamah Ibu) tersebut.

Bisa jadi Mabu adalah satu-satunya ibu guru di tanah air dengan hobi “seekstrem” itu. Di usia yang juga sudah tidak lagi muda.

Tapi, touring mengendarai motor memang sudah mendarah daging baginya. Telah dilakukannya jauh sebelum menikah. Sampai dia lupa kapan persisnya tur pertamanya.

Padahal, jadwalnya sebagai guru juga padat. Di rumahnya pada Senin siang lalu itu, misalnya, Mabu tengah menyortir puluhan lukisan hasil karya siswa untuk dipamerkan Itu bagian dari tugasnya sebagai guru seni rupa. Selain tentu saja kewajiban harus mengajar di kelas.

Karena itulah, touring biasa dia lakukan hanya saat libur panjang. Agar tak sampai meninggalkan kewajiban mengajar. “Kalau pas nggak libur panjang, paling hanya keliling kota atau tempat yang dekat-dekat saja.”

Di pelataran rumah yang asri di kawasan Buah Batu, Bandung, itu tampak pula 12 Vespa berjejer. Seluruhnya milik Mabu sekeluarga. Dari yang paling tua keluaran 1961 sampai yang terbaru rilisan tahun lalu.

Sejak sepuluh tahun lalu, untuk urusan motor, Mabu dan suami memang tak bisa berpaling ke lain hati. Hanya Vespa. Yang kemudian menular kepada kedua anak lelakinya. Tapi, kecintaan kepada Vespa itu tidak datang tiba-tiba. Bahkan, Mabu sempat melarang ketika suaminya berniat membeli Vespa.

“Pas pertama beli, suaranya kencang bener, terus asap knalpotnya tebel bener. Olinya netes ke mana-mana,” ungkapnya.

Mabu pun sempat meminta sang suami menjualnya kembali. Tapi, sang suami memutuskan membawanya ke bengkel. Dan, voila, sebulan kemudian, Mabu justru jatuh hati kepada si Vespa yang catnya telah berganti jadi ungu.

“Jadi bagus dan enak dikendarai. Karena warnanya ungu, akhirnya dipanggil unyu,” katanya, lantas tersenyum.

Saat berkeliling Aceh pada Desember tahun lalu sendirian, Vespa pula yang dikendarai Mabu. Persisnya jenis VBB 1964. “Pas sebelumnya ada gempa di daerah Pidie. Jadi, bawa sedikit bantuan ke sana,” terang dia.

Itulah salah satu alasan yang membuat Mabu doyan touring: kesempatan untuk berbagi atau menebar kebaikan. Ke mana pun dia tur, baik sendiri, dengan suami dan anak, maupun dengan komunitas Vespa, sebisanya dia membawa apa saja yang mungkin berguna di daerah tujuan.

“Minimal saya bawa mukena yang biasanya, lantas saya tinggal di masjid yang saya sambangi,” katanya.

Karena itulah, sebelum keberangkatan ke Papua setelah Lebaran nanti, dia giat mengumpulkan donasi. Terutama berupa seragam dan peralatan sekolah.

“Apa saja yang mungkin bermanfaat bagi daerah-daerah yang saya singgahi bersama suami nanti,” katanya.

Kecintaannya kepada touring dengan bersepeda motor tumbuh karena sejak kecil dia menyukai kegiatan luar ruang. Apalagi, setelah menikah, sang suami mendukung penuh kegiatannya tersebut.

Menurut dia, bersepeda motor membuatnya bisa menikmati pemandangan secara bebas. “Indonesia ini banyak sekali tempat indah yang bisa dinikmati sambil melakukan hal positif di tempat tersebut,” katanya.

Tempat mana yang paling mengesankan? “Semua,” katanya. Meski kadang menemui pengalaman yang menurut banyak orang mungkin menakutkan.

Di Mesuji, Lampung, misalnya. Suatu hari saat singgah di sana, Mabu harus mendinginkan motor yang biasanya butuh waktu dua-tiga jam.

Berhentilah dia di jalan yang sepi. Hanya satu dua mobil yang melintas. Mendadak ada seorang pria mendekat sembari membawa celurit.
Karena tak curiga, Mabu yang bepergian sendirian terus saja asyik memotret sekitarnya. Pria tersebut terus saja bolak-balik. “Ya, saya sapa. Dia juga balik menegur dengan pandangan yang terlihat aneh. Tapi, kemudian dia berlalu,” kenangnya.

Ketika dia kemudian menceritakan pengalaman tersebut kepada kawan-kawan sekomunitasnya, Mabu baru sadar bahwa kawasan tempat dia berhenti itu rawan begal. “Tapi, saya dari awal memang nggak ada pikiran curiga,” katanya.

Sesekali dia juga mengalami masalah dengan VBB 1964-nya. Namun, selalu ada saja kawan-kawan dari komunitas Vespa di kota yang disinggahi yang mengulurkan tangan untuk membantu.

Agar lebih siap menghadapi masalah dengan motor kesayangannya, Mabu pun perlahan belajar mengenai Vespa. Selama ini dia langsung belajar dari ahlinya, yaitu montir yang biasa dia panggil ke rumah.

“Awalnya bantuin montir. Sekarang montir datang, yang perbaikin saya hehehe.”

Di usia yang tak lama lagi mencapai kepala enam, Mabu mengaku tak tahu sampai kapan akan terus touring. Yang pasti, selama masih kuat, dia akan tetap melakukannya.

“Mudah-mudahan juga masih bisa terus keliling Indonesia pakai Vespa,” harapnya. (jp)

Loading...