Sempat Gagal, Siswa ini Ciptakan Tinta Berkualitas Berbahan Daun Jati

M. Nurkhozim
Pelajar SMAN 4 Bojonegoro yang menemukan tinta berbahan daun jati menunjukkan piagam dan medalinya kemarin.

Bagus Anugerah Heri Irwanto dan Gamelia Galuh, serta kawan-kawan masih mengikuti pelajaran di ruang kelas ketika Jawa Pos Radar Bojonegoro menyambanginya di sekolah. Sejurus kemudian mereka masuk ruang guru.

Raut gembira di wajah para siswa SMAN 4 Bojonegoro itu masih terlihat. Maklum, belum lama ini mereka baru saja meraih prestasi yang luar bisa. Yaitu, menyabet medali emas dalam sebuah perlombaan karya ilmiah tingkat nasional yang diadakan Universitas Brawijaya (UB) Malang. “Alhamdulillah kami menyabet medali emas. Rasanya tidak percaya,” ungkap Bagus ditemui senin (7/5).

Karya ilmiah yang dibuat oleh Bagus dan kawan-kawan itu memang menarik. Yaitu, membuat tinta spidol dari bahan daun jati. Sebuah penemuan yang unik dan menarik. Mengingat bahan yang dibutuhkan sangat melimpah di Bojonegoro. Itu karena Bojonegoro memiliki banyak hutan jati. Bisa dibayangkan bagaimana melimpahnya bahan baku tinta di Bojonegoro.

Ide membuat tinta berbahan dasar daun memang bukan yang pertama kali dicetuskan. Sebelumnya, sudah ada percobaan membuat tinta dengan bahan dasar daun. Terutama daun jambu. Namun, untuk daun jati baru mereka yang mencobanya. “Dan alhamdulillah berhasil dengan baik. Meskipun berkali-kali mengalami kegagalan,” ungkap dia.

Proses membuatnya sangat mudah. Pertama pilihlah daun jati yang kering. Jangan yang basah. Sebab, daun jati muda mengandung warna merah. Sehingga, tidak bagus untuk membuat tinta hitam. Pisahkan daun dan gagangnya. Jangan sampai tercampur antara gagang dan daun. Setelah itu, daun jati kering tadi ditumbuk sampai hancur. Setelah ditumbuk, sangrai daun jati sampai menghitam. Setelah jadi hitam kemudian diblender sampai lembut. Kemudian, bubuk daun jati itu diayak lagi agar terpisah antara yang kasar dengan yang lembut. “Kita memilih yang bagian paling lembut,” jelasnya.
Serbuk hitam daun jati tadi kemudian dicampur aquades dan alkohol 76 persen. Panaskan lalu campurkan tepung maizena dan CMC. Panaskan selama 15 menit. “Setelah itu, jadilah tinta,” terangnya.

Gamelia Galuh menambahkan, tinta berbahan daun jati itu memiliki kelebihan. Di antaranya, ramah lingkungan dan bahannya mudah didapatkan. Campuran bahan kimianya juga tidak terlalu banyak. “Kami menamainya Tetra Ink,” jelasnya.
Tinta yang dihasilkan tersebut masih belum permanen. Namun, untuk menjadikannya permanen tidaklah sulit. Hanya cukup ditambahkan aquades lebih banyak. “Kalau yang kita buat ini masih bisa dihapus kok,” jelasnya.

Eksperimen tersebut bukan tidak pernah mengalami kegagalan. Sebelumnya, mereka berkali-kali mengalami kegagalan selama 3 bulan. Namun, setiap kegagalan selalu dijadikan bahan evaluasi kekurangan. Sehingga, solusinya bisa didapatkan. Sampai akhirnya bisa menemukan bahan yang pas untuk membuat tinta berbahan daun jati yang pas.

Dalam waktu dekat, pihak sekolah akan mendaftarkan apa yang sudah menjadi karya tersebut di hak kekayaan intelektual (HAKI). Sebab, pihak sekolah tidak ingin apa yang diraih siswa selama ini diklaim oleh orang luar negeri. “Ini saran yang kami peroleh dari Bakorwil. Jadi, akan kami daftarkan segera,” pungkas Kepala SMAN 4 Bojonegoro Kusbintarto. (bj/zim/nas/bet/JPR)

Loading...