Utusan Pemerintah Belanda Robert van de Rijdt dan Erizal Ginting Eksplor Siantar (1)

Buku sejarah Kota Pematangsiantar; Peristiwa Berdarah Siantar Hotel, karya Erizal Ginting.

Berawal dari Buku Peristiwa Berdarah Siantar Hotel, Cari Makam Korban Perang

Pematangsiantar selalu punya daya tarik untuk diulas, apalagi soal sejarah. Kota ini punya segudang kisah yang bisa diceritakan kepada dunia. Ada cerita turun-temurun tentang terowongan bawah tanah. Juga tentang sejumlah bangunan peninggalan Belanda yang masih kokoh berdiri hingga kini.

Nurjannah, Pematangsiantar

Berbicara soal Belanda, belum lama ini, seorang pria berkewarganegaraan Belanda, bernama Robert van de Rijdt, sengaja meluangkan waktu selama dua hari khusus mengeksplor Kota Pematangsiantar. Membawa misi mulia dari negaranya, Robert bersama Elisa Barka, temannya sekaligus penerjemah, menemui Presiden BSA Owner Motorcycles Siantar (BOMS) H K Erizal Ginting.

Erizal Ginting secara resmi diminta oleh Pemerintah Belanda melalui Kedubesnya di Indonesia untuk ikut menuntaskan misi mereka. Pasalnya, sumber data-data yang mereka miliki tentang Sejarah Siantar dan korban perang Belanda berasal dari buku sejarah yang ditulis Erizal Ginting.

Senin (14/5) siang, Presiden BOMS yang juga suami orang nomor satu di RSUD Dr Djasamen Saragih, dr Susanti Dewayani SpA, mengabarkan pertemuannya dengan Robert van de Rijdt, utusan Pemerintah Belanda, di Green Land Cafe and Resto, Jalan Asahan. Aku merasa terhormat menjadi bagian dalam penyelesaian misi yang melibatkan dua negara ini.

Kurang dari sepuluh menit waktu yang dijanjikan, aku sudah sampai di lokasi. Belum ada siapa-siapa di sana, hanya beberapa pengunjung dan pekerja. Lima menit kemudian, mobil pribadi berwarna hitam memasuki area parkir. Seorang bule dengan tinggi menjulang turun dari mobil. Disusul pria pribumi yang memegang berkas-berkas.

“Hai, apa kabar?” ucap pria bule itu begitu melihatku tersenyum menyapanya. Dia menyapa dalam bahasa Indonesia, aku membalas dengan mengucap baik. Lalu, aku memperkenalkan diri sembari mengajak keduanya menuju kafe dan mempersilahkan duduk.

Tak berselang lama, mobil pribadi berwarna putih milik Erizal Ginting terlihat parkir di samping kiri mobil si bule tadi.

Memakai batik, Erizal Ginting turun dengan membawa miniatur becak BSA yang terbuat dari kayu dan buku sejarah Kota Pematangsiantar; Sepotong Peristiwa Berdarah Siantar Hotel, buah karyanya.

Erizal Ginting, budayawan sekaligus sejarawan itu pun bergabung di meja kami. Setelah memperkenalkan diri secara singkat, bule Belanda itu pun menjelaskan misi yang dibawanya dari negeri Kincir Angin itu.

Lewat penerjemahnya, Robert mengaku ingin mencari makam-makam tentara Belanda yang menjadi korban perang di Kota Pematangsiantar. Robert mencari makam-makam tentara Belanda yang gugur periode tahun 1941 sampai 1949. Berbekal berkas berisi nama-nama dan foto-foto makam di masa lalu, Robert panjang lebar menceritakan misinya.

Erizal Ginting yang sebelumnya sudah menerima email pemberitahuan tentang misi pencarian makam-makam tentara korban perang dari Kedubes Belanda, telah lebih dulu terjun mengeksplorasi sekaligus menapak tilas seputar kuburan Belanda di Kota Pematangsiantar.

Menurut catatan Erizal Ginting, ada sejumlah tentara Belanda yang gugur di Kota Pematangsiantar, dan diduga dimakamkan di Kerkhof Belanda sekarang menjadi Pekuburan Kristen Pematangsiantar di Jalan Parsoburan antara lain adalah:

– JC Groenenberg (Pada tanggal 15 Oktober 1945 sebuah pertempuran berdarah terjadi. Salah satu korbannya adalah Pengusaha Perkebunan JC Groenenberg sebagai korban ke 3 di Siantar Hotel.

– F Boiratan (Belanda – Tentara KNIL meninggal 16- Oktober 1945) korban ke 6 di Siantar Hotel.

– JT Boer van Konijnenburg ( Belanda-Meninggal )

– ERJ Boers (Belanda – Dokter, dikenal bapak angkat masyarakat Simalungun) dengan istri korban ke 4 di Siantar Hotel.

– A Bauer (Swiss- pekerja kebun milik Surbeck) menjadi mediator saat massa pejuang Indonesia meminta tentara Belanda (NICA)diserahkan namun ditolaknya. Sehingga dia ditembak sebagai korban ke 1 di Siantar Hotel.

– LC Günther (data belum lengkap)

– RW Schuepp(ADM Perkebunan Sawit Dolok Sinumbah dibawa ke penjara dan akhirnya selamat datangnya bala bantuan Inggris Mr Smoock dari Medan. Namun pemilik hotel Mr Surbeck dibawa ke penjara akhirnya tewas, sebagai korban ke 5. Ia dianiaya massa yang marah.

– H Boner (Swiss- Insinyur ahli mesin pabrik Minunam Badak) korban ke 2 di Siantar Hotel.

– Dan beberapa tentara NICA terdiri dari suku Ambon dan Eropa korban ke 7 s/d 17 di Siantar Hotel.

Setelah mencocokkan data yang dibawa Robert van de Rijdt dan catatan Erizal Ginting maka disepakati untuk mendatangi makam-makam tersebut secara langsung di Jalan Parsoburan, Kampung Kristen. Namun, karena hari sudah sore, diputuskan kunjungan ke makam akan dilakukan keesokan hari, atau Selasa (15/5) pagi, pukul 10.00 WIB.

Dan, yang disepakati selanjutnya adalah mengunjungi Siantar Hotel yang menjadi tempat pertempuran antara tentara Belanda dengan para pejuang Indonesia yang ingin merebut kemerdekaan.

Robert van de Rijdt terlihat begitu antusias mendengar bahwa Siantar Hotel, saksi sejarah itu, masih berdiri hingga kini bahkan menjadi hotel. Benar saja. Begitu tiba di Siantar Hotel yang berada persis di belakang Lapangan Merdeka atau Taman Bunga, bule berkepala plontos ini terkagum-kagum. Robert seperti berada di negaranya dan bernostalgia saat melihat bangunan Siantar Hotel.

Tak hanya mengagumi Siantar Hotel, Robert van de Rijdt juga heran melihat becak BSA Siantar. Mengapa pula motor tua BSA buatan Inggris nan antik itu, justru digunakan sebagai transportasi umum di Kota Pematangsiantar. Tugu becak BSA yang berdiri di Lapangan Parkir Pariwisata, Jalan Merdeka, melengkapi keheranan dan kekagumannya dengan Kota Pematangsiantar, yang baru pertama kali ini didatanginya.

Penasaran bagaimana perjalanan misi Robert van de Rijdt didampingi Erizal Ginting mencari makam-makam tentara Belanda di Pekuburan Kristen di Jalan Parsoburan? Di sana, ada berbagai kisah mistis yang dibagikan para juru kunci penjaga makam. Baca edisi besok ya. (bersambung)