Utusan Pemerintah Belanda Robert van de Rijdt dan Erizal Ginting Eksplor Siantar (2)

Nurjannah
Robert van de Rijdt (pakai topi) dan Erizal Ginting di antara bongkahan batu besar yang diduga makam (Belanda) korban perang.

Yang Tersisa hanya Sebongkah Batu Besar, Mimpi Dipukuli Orang Barat

“Dulu, sebelah sini kuburan orang Belanda semua. Sebelah sana, orang Jepang. Sekarang ya sudah tak ada lagi. Habis semua kena timpa setelah ini dijadikan pekuburan Kristen.”

Nurjannah, Pematangsiantar

Pagi yang dijanjikan tiba. Kesepakatan yang dibikin, ditunaikan. Kami; aku, bule Belanda Robert van de Rijdt, Erizal Ginting dan Elisa Barka, memulai eksplorasi, sekitar pukul 10.00 WIB. Ditemani matahari yang masih malu-malu, kami sampai di pekuburan Jalan Parsoburan, Kampung Kristen.

Erizal Ginting memperkenalkan kami dengan lima pria yang menyambut kedatangan rombongan, dua di antaranya, Radot Manik dan Jaya Siahaan. Keduanya juru kunci alias penjaga makam. Dengan membawa cangkul dan arit, keduanya siap menyingsingkan lengan baju untuk membantu misi Robert van de Rijdt.

Keduanya langsung menunjukkan sejumlah makam-makam orang Belanda yang masih tersisa. Memang ada beberapa makam orang Belanda, tapi tidak sesuai dengan yang mereka cari, yakni periode tahun 1941 hingga 1949.

“Dulu, sebelah sini kuburan orang Belanda semua. Sebelah sana, orang Jepang. Sekarang ya sudah tak ada lagi. Habis semua kena timpa setelah ini dijadikan pekuburan Kristen. Jadi, susah mencari seperti yang mereka inginkan,” kata Jaya Siahaan, sambil menunjukkan arah-arah makam.

Namun, Robert van de Rijdt dan Elisa Barka tak ingin perjalanan mereka ke Pematangsiantar menjadi sia-sia. Mereka terus bertanya kepada para penjaga makam tentang kemungkinan-kemungkinan makam Belanda yang masih ada.

“Sudah habis semua kena timpa. Cuma batu ini lah yang tinggal. Soalnya keras kali, tak bisa kami hancurkan. Kalau bisa, uda lewat juga ini,” sebut Jaya sambil menunjukkan bongkahan batu besar di antara makam marmer berwarna merah.

Di sekitar batu besar itu, tumbuh rumput-rumput liar. Ditemani Elisa, Robert van de Rijdt sibuk mengamati batu besar yang tersisa menurut para penjaga makam. Robert van de Rijdt, dengan kemeja kotak-kotak berwarna biru dan topi serta pin BOMS di atas saku, memotret tiap sisi dan sudut batu tersebut.

Sesekali Robert van de Rijdt berbisik kepada Elisa Barka. Selanjutnya Elisa menerjemahkannya. Seperti ketika Robert van de Rijdt meminta para penjaga makam untuk membersihkan rumput-rumput liar dan menggali sebisa mungkin lebih dalam batu itu.

“Enggak bisa lagi. Cuma segini lah. Soalnya keras batu ini. Mungkin dibom baru bisa hancur,” canda Radot Manik, saat membersihkan rumput-rumput liar dan menggali tiap sisi dari batu tersebut.

“Ini pun bekas kuburan Belanda. Sudah tiga kali ini ditimpa. Tiga-tiganya dipindah lagi. Ini lah yang terakhir. Belum tahu ikut dipindah atau enggak,” timpal Jaya Siahaan sambil menunjuk makam yang berada persis di atas bongkahan batu besar itu.

“Sebelumnya, istri dari yang dimakamkan di kuburan ini cerita kalau dia berulang-ulang mimpi. Dia mimpi suaminya dipukuli orang-orang Barat. Enggak tau orang Belanda atau bukan. Pokoknya orang Barat. Jadi, dipindahkanlah kuburan suaminya ke kampungnya. Tiga-tiga yang dipindahkan, keluarganya bercerita yang sama. Dimimpiin. Di dalam mimpi, orang yang dikubur di sini digimbali sama orang Barat,” sambung Jaya Siahaan.

Tak hanya soal mistis. Para penjaga makam ini pun berbagi berbagai pengalaman selama menjadi penjaga makam. Misalnya, ada yang pernah mendapat samurai saat menggali makam. Mungkin, orang Jepang yang dimakamkan dulu, dikubur bersama samurai. Orangnya hancur. Samurainya utuh.

“Kami juga pernah dapat emas. Kalau dapat, ya dijual. Lalu dibagi-bagi. Lumayan uang masuk. Sama seperti samurai itu. Dijual juga,” cerita Jaya Siahaan.

Sudah hampir satu jam, Robert van de Rijdt dan Elisa Barka ditemani Erizal Ginting mengamati bongkahan batu itu. Selain memotret, Robert van de Rijdt juga terlihat mencocokkan dengan bentuk foto pemakaman yang dibawanya. Sesekali terdengar pujian penjaga makam yang menyebut ketekunan Robert van de Rijdt melihat detail demi detail batu tersebut.

“Apakah pemakaman ini mempunyai arsip atau sesuatu yang bisa membuktikan atau menunjukkan kemungkinan batu ini adalah sisa-sisa makam periode 1941 hingga 1949?” tanya Elisa kepada para penjaga makam.

“Enggak ada. Sudah berganti-ganti mandor yang mengurus makam ini. Batu ini lah satu-satunya yang tersisa dari makam (orang) Belanda yang di sekitar sini. Ini pun karena tidak bisa dihancurkan, kalau bisa dihancurkan, sudah diisi sama yang lain. Kalau di sebelah sana, ada beberapa makam Belanda, tapi bukan (makam) tahun 40-an,” sebut Jaya Siahaan lagi.

“Semua makam Belanda sudah hampir habis dibongkar. Marmernya diambil. Soalnya marmer Belanda nomor satu punya. Mahal dijual. Jadi, gak heran kalau sudah tak ada yang utuh apalagi sudah puluhan tahun yang lalu makamnya,” sambung Radot Manik.

Tak terasa hampir dua jam kami berada di pemakaman. Matahari mulai meninggi. Nyamuk juga sudah berulang-ulang singgah di tangan dan pipi. Setelah mengambil sejumlah dokumentasi, akhirnya kami memutuskan pulang.

Dalam perjalanan pulang, Robert van de Rijdt menjelaskan, hasil eksplornya ini, baik berupa data dan foto akan dikirim ke Belanda langsung untuk diidentifikasi kembali. Besar kemungkinan batu tersebut adalah salahsatu makam yang mereka cari. Namun, masih perlu dilakukan kajian ilmiah lagi. Oleh karena itu, tim ahli dari Belanda akan datang kembali untuk meneliti ulang batu tersebut.

Sedangkan untuk proses administrasi perpindahan makam, Erizal Ginting mengaku siap menjembatani Robert van de Rijdt sebagai perwakilan Negara Belanda dengan Pemerintah Indonesia.

“Terima kasih kepada semua penjaga makam yang sudah membantu. Next, tim ahli dari Belanda akan meneliti kembali soal kebenaran makam tersebut,” sebut Elisa menerjemahkan yang diucapkan Robert van de Rijdt.

Setelah mengucap terima kasih dan bersalaman dengan para penjaga makam, kami meluncur menuju salahsatu Restoran Padang di Jalan Medan. Jika ternyata makam tersebut benar makam (Belanda) korban perang, apa yang akan dilakukan selanjutnya? Baca edisi besok ya. (bersambung)