Utusan Pemerintah Belanda Robert van de Rijdt dan Erizal Ginting Eksplor Siantar (3)

Ereveld Menteng Pulo, salahsatu makam Belanda yang dikelola Yayasan OGS, di mana Robert van de Rijdt menjabat sebagai direktur.

Jika Terbukti, Makam Akan Dipindahkan ke Ereveld

Bongkahan batu besar yang diduga makam Belanda yang dicari Robert van de Rijdt masih akan dikaji oleh tim ahli dari negeri Kincir Angin tersebut. Jika terbukti, maka makam tersebut akan dipindahkan ke ereveld (makam Belanda) yang dikelola yayasan pemakaman korban perang Oorlogs Graven Stichting (OGS) di Indonesia.

Nurjannah, Pematangsiantar

Siang itu, kami; Robert van de Rijdt, Elisa Barka, Erizal Ginting dan aku, tiba di Restoran Padang di Jalan Ahmad Yani, Kota Pematangsiantar. Begitu duduk, berbagai menu makanan disajikan. Ada varian daging ayam, sea food, daging, hingga daun ubi rebus dan sambal terasi.

Santap siang dua negara ini terasa menyenangkan. Apalagi Robert van de Rijdt, terlihat begitu lahap. Ia mencicipi nyaris semua menu yang dihidangkan. Mulai udang goreng, ayam goreng, rendang daging, cumi sambal, hingga sate. Semua dicicip.

Sembari makan, Robert van de Rijdt, mengomentari pemberitaan bom meledak di Surabaya, yang kebetulan beritanya sedang tayang di televisi di depan kami. Usai bersantap, Robert van de Rijdt, memuji rasa puding pepaya yang menjadi menu pencuci mulut. “Ini enak,” pujinya.

“Mbak, ada yang mau ditanyakan kepada Pak Robert,” tanya Elisa kepadaku begitu aku menyelesaikan suapan terakhirku.
“Oh ya, tentu. Saya memang menunggu kita selesai makan,” jawabku.

Setidaknya ada 7 ereveld yang diurus yayasan pemakaman korban perang Oorlogs Graven Stichting (OGS) di Indonesia.

“Dan Pak Robert ini Direktur yang menangani ketujuh ereveld itu,” sebut Elisa memulai penjelasan tentang Yayasan OGS.

Di Jakarta, ada dua ereveld; Menteng Pulo dan Ancol. Di Semarang ada dua Ereveld; Candi dan Kalibanteng. Di Surabaya, ada Kembang Kuning. Di Bandung, terdapat Pandu. Terakhir, di Cimahi ada Leuwigajah. “Jika nanti, makam yang tadi terbukti benar makam korban perang, maka akan dipindahkan ke salahsatu ereveld itu,” sebut Elisa.

Di antara tujuh ereveld itu, yang terkenal adalah ereveld Menteng Pulo. Ereveld Menteng Pulo diapit banyak Taman Pemakaman Umum Menteng Pulo juga. Selain pemakaman umum, gedung bertingkat dan perkampungan juga mengepung makam ini.

Menurut situs resmi OGS, yayasan ini merawat makam dari 50 ribu orang, tersebar di Eropa, Asia Tenggara, Indonesia, bahkan di Irak. Dari 50 ribu itu, sebanyak 25 ribu orang di antaranya dimakamkan di Indonesia. Perawatan makam oleh OGS ditopang berbagai Donatur dan Pemerintah Belanda.

Makam-makam ini terbuka untuk umum juga. Robbert van de Rijdt adalah Direktur yayasan OGS untuk wilayah Indonesia. Semua ereveld di Indonesia adalah lingkungan kerjanya. Van de Rijdt mempersilahkan siapa saja, termasuk orang-orang Indonesia untuk berkunjung.

Elisa Barka, yang juga opzichter (pengawas) makam OGS Menteng Pulo, mewakili Robert van de Rijdt bercerita, di pintu gerbang bertulis ereveld (di sisi kiri) dan Menteng Pulo (di sisi kanan), jejeran nisan putih akan terlihat.

Setelah pintu masuk, di sebelah kiri, arah utara, adalah nisan-nisan prajurit Hindia-Belanda yang beragama Islam. Mereka adalah orang-orang Indonesia yang tergabung dalam Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda.

Ke utara lagi, terlihat tugu yang terdapat baling-baling. Di dekatnya adalah makam-makam dari prajurit penerbangan KNIL, Militaire Luchvart (ML). Di sisi timur terdapat makam-makam dari prajurit Angkatan Laut Belanda, Koninklijk Marine.

Di sebelah kanan dekat gerbang adalah prajurit Belanda yang kebanyakan beragama Kristen, baik dari KNIL maupun dari Angkatan Darat Belanda alias Koninklijk Landmacht (KL). Di sisi kanan ini ada juga makam prajurit Belanda yang beragama Yahudi maupun yang Budha.

Untuk melihat apa agama dari orang yang disemayamkan di makam Belanda ini bisa dilihat dari patoknya. Jika bentuknya mirip kubah masjid, maka itu Islam. Jika Salib, maka Kristen—Salib polos untuk Protestan dan berhias untuk Katolik. Jika bintang segi enam, berarti Yahudi. Tentu saja, karena kacaunya perang, ada korban yang tak dikenali identitasnya. Di nisan ditulisi: Onbekend (tak dikenal).

Di sisi selatan jalan masuk, terdapat makam dari orang yang pangkatnya paling tinggi, Jenderal Simon Hendrik Spoor. Ia adalah panglima tertinggi Tentara Belanda di Indonesia dari 1946 hingga 1949.

Menurut Jaap de Moor, dalam Jenderal Spoor: Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia (2015), berdasarkan Notula Dewan Sidang Menteri 23 Mei 1949, Spoor meninggal karena serangan jantung.

Tidak ada perbedaan antara makam Spoor dengan prajurit yang berpangkat jauh di bawahnya. Hanya berupa nisan berbentuk salib saja. Seperti kata Spoor, “mereka berada di sini tanpa peduli ras, agama, etnis, pangkat atau jabatan.”

Spoor adalah orang meletakkan batu pertama atas pembangunan makam ini pada 8 Desember 1947, tapi makam prajurit W van Kammen sudah ada sana sejak 11 Februari 1947. Sepasang orang sipil juga sudah dimakamkan di sana pada 14 Desember 1946. Rancangan makam ini dibuat oleh Letnan Kolonel van Oerle dari Divisi 7 Desember KL Belanda. Spoor pun akhirnya menghuni makam itu juga pada 29 Mei 1949.

Setelah memaparkan tentang ereveld, Robert van de Rijdt melalui Elisa Barka bercerita sedikit tentang Kota Pematangsiantar. Apa sajakah itu? Baca edisi besok ya. (bersambung)