Utusan Pemerintah Belanda Robert van de Rijdt dan Erizal Ginting Eksplor Siantar (4/Habis)

Salah satu makam Belanda di Perkuburan Kristen, Jalan Parsoburan, Pematangsiantar. Jika dibangun Kerkhof, makam ini akan dipindah ke sana.

Dukung Destinasi Yes, Direncanakan Bangun Kerkhof

Motto Siantar Destinasi Yes, Transit No, yang digaungkan Presiden BOMS Erizal Ginting juga mendapat dukungan dari Robert van de Rijdt. Dan, sebagai kota destinasi, Erizal Ginting ingin menambah objek wisata baru di Pematangsiantar. Objek wisata itu, terinspirasi dari perjalanannya dengan Robert van de Rijdt. Apakah itu?

Nurjannah, Pematangsiantar

Usai panjang lebar menceritakan tentang yayasan pemakaman korban perang Oorlogs Graven Stichting (OGS) di Indonesia, Robert van de Rijdt, begitu antusias ketika aku bertanya pendapatnya tentang Kota Pematangsiantar.

“What do you think about Pematangsiantar city? About Place, food and person? Tanyaku dengan Bahasa Inggris seadanya.
”Oh, nice,” jawab Robert van de Rijdt meluncur cepat begitu aku selesai bertanya.

Menurut Robert van de Rijdt, Pematangsiantar kota yang sejuk dan tertib. Kalau di Jakarta, panas dan macet. Berbicara tentang cuaca, Robert van de Rijdt sampai bolak-balik membuka aplikasi prakiraan cuaca di handphonenya, sembari membandingkan suhu di Kota Pematangsiantar dengan Jakarta.

Untuk makanan, Robert van de Rijdt mengacungkan jempol. Kata Robert, lidahnya cocok dengan makanan-makanan yang disajikan, apalagi dengan udang gorengnya. “Sedangkan untuk orang-orangnya, bapak (Robert) gak bisa menanggapi terlalu jauh mengingat hanya dua hari di sini. Tapi, orang-orang yang di pemakaman dan bapak Erizal (sendiri), sepertinya cukup menggambarkan bahwa orang-orang di Pematangsiantar itu welcome dan ramah-ramah,” jelas Elisa Barka, menerjemahkan jawaban Robert van de Rijdt.

Mendengar jawaban Robert van de Rijdt, Erizal Ginting mengaku bahagia. Pasalnya, untuk mendukung program Siantar Destinasi Yes, memang dibutuhkan masyarakat yang ramah tamah, di samping ketersediaan objek wisata.

“Dan, dari perjalanan ini saya terinspirasi untuk membangun wisata sejarah, untuk menambah keberagaman objek wisata di Kota Pematangsiantar. Saya berencana makam-makam (orang) Belanda dan makam-makam orang-orang luar negeri; entah itu dari Swiss, Tionghoa, yang masih ada di pemakaman-pemakaman, dipindahkan ke suatu tempat dan dijadikan Kerkhof,” papar Erizal dan diamini anggukan dari Robert van de Rijdt dan Elisa Barka.

Menurut Erizal Ginting, Sumatera Utara perlu memiliki Kerkhof untuk wisata sejarah. Di Indonesia, ada beberapa Kerkhof, seperti di Sawahlunto, Sumatera Barat. Kerkhof (Pekuburan Belanda) di Kebun Raya Bogor. Kerkhof yang berkaitan dengan keberadaan Benteng Van der Wijk dan satu-satunya di wilayah Gombong, Kebumen. Dan, Kerkhof di Banda Aceh.

“Saya mendukung ide itu. Saya juga mendukung Siantar Destinasi. Semua faktor untuk menjadikan Siantar sebagai kota destinasi, sudah ada. Cuaca yang sejuk. Makanan yang enak. Situs sejarah. Dan lainnya,” sambut Robert van de Rijdt.

Tak terasa, jam dinding sudah menunjukkan pukul satu kurang. Robert van de Rijdt dan Elisa Barka pun pamit. Keduanya masih harus Kualanamu International Airport, mengejar pesawat sore.

“Saya dan bapak (Robert) mengucapkan terima kasih sudah disambut dengan begitu hangat. Begitu baik. Semoga akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Saya masih ingin naik motor BSA ke Danau Toba,” canda Elisa Barka mengakhiri pertemuan.

Sedikit tentang rencana membangun Kerkhof, menurut Erizal Ginting, membutuhkan bantuan dari semua pihak untuk peduli, terutama dari Pemerintah Kota Pematangsiantar. Karena untuk membangun Kerkhof, butuh tim khusus dan arkeolog.

Bicara tentang makam-makam Belanda, berarti berbicara tentang penjajah. Memang benar, Belanda telah menjajah Indonesia. Namun, suka atau tidak suka, penjajahan Belanda itu adalah bagian dari sejarah, termasuk sejarah Kota Pematangsiantar.

Jadi, masa lalu biarlah menjadi masa lalu. Saat ini, bagaimana caranya kita untuk menjadikan masa lalu sebagai media untuk menghasilkan income untuk masa depan.

Mengapa income? Sebab, jika Kerkhof terealisasi, maka bukan hal mustahil bila wisata sejarah ini ramai dikunjungi orang-orang dari luar negeri yang ingin melihat makam-makam warga dari negaranya. Itu bisa menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Namun yang menjadi pertanyaan, adakah niat DPRD Kota Pematangsiantar dan Dinas terkait untuk menjaga dan melestarikan bahkan menggali tentang sisa peradaban masa lalu atau mata rantai dari Sejarah kota ini?” tanya Erizal Ginting.

Menurut Erizal, jika perhatian ke arah ini tidak ditumbuhkan sejak sekarang dan dianggap hanya hal sekunder maka percayalah semua aset sejarah, baik situs heritage bangunan tua, kuburan, stasiun KA dan Budaya Tradisi Lokal, Budaya Akulturasi/campuran dalam bentuk apapun di kota ini akan lenyap seiring dengan perkembangan kota yang terus berpacu dengan zaman.

“Pemerintah Republik Indonesia sendiri telah membuat UU No 5 Tahun 1992 dan Revisi UU No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang mewajibkan setiap aset sejarah yang ada untuk dilestarikan dan dijaga keberadaannya, tinggal siapa yang harus memulai?” tanya Erizal lagi.

“Sudah selayaknya DPRD Siantar serta instansi terkait melakukan pengelolaan pada situs, heritage dan budaya tradisional yang tersisihkan untuk menjadikannya skala prioritas utama. Juga jadi agenda penting demi penyelamatan aset bangsa agar Kota Siantar dapat berubah dari kota transit menjadi kota destinasi wisata,” pungkas Erizal. (*)