Pemenang Program Astronot Amerika (Bagian II)

Ridho Hidayat
Nur Fitriana, guru di SD Meneri Deresan Sleman, Jogjakarta bisa mengikuti pelatihan astronot dan luar angkasa di kompleks National Aeronautics and Space Administration (NASA).

Dianggap Anak 12 Tahun, Diajari Menjadi Astronot Langsung dari Ahlinya

Belajar menjadi seorang astronot tidaklah mudah. Selain harus mempunyai otak yang cemerlang ternyata syarat yang dibutuhkan adalah siap mati. Nur Fitriana, seorang guru SD di Jogjakarta menjadi salah satu pemenang program Astronot Amerika. Berikut kisahnya selama belajar di Amerika.

Ridho, Jogjakarta

Nasib orang tiada yang mengetahui. Siapa yang menyangka jika Nur Fitriana, guru di Sekolah Dasar (SD) Meneri Deresan Sleman, Jogjakarta bisa mengikuti pelatihan astronot dan luar angkasa di kompleks National Aeronautics and Space Administration (NASA).

Bahkan sekitar 3 minggu sebelum keberangkatan, ia dan rekan-rekannya asal Indonesia sempat khawatir. Hal itu dikarenakan, suasana di tanah air lagi ramai dengan pengeboman gereja di Surabaya, Jawa Timur.

Sedangkan ia dan teman-temannya banyak yang namanya berbau muslim, serta berkerudung. Namun sewaktu di imigrasi ternyata saat ditanya petugas dan menjelaskan kalau memang peserta pelatihan di NASA, langsung disambut dengan hangat.

Ia bersama rekannya dan peserta lain dari seluruh penjuru dunia diinapkan di sebuah asrama di Alabama, Amerika Serikat. Kemudian dijemput memakai bus untuk berkeliling di kompleks NASA.

Di NASA itu, sebanyak 118 peserta dibagi dalam 8 grup. Masing-masing, mereka diberikan pembelajaran secara bergantian.

“Kami bertemu dengan para astronot beneran sejak hari pertama, yang kemudian beliau bercerita, membagikan bukunya langsung dengan fotonya langsung tanda tangan,” kata Fitri, kepada JawaPos.com, Senin (2/7) di SD Deresan.

Setiap hari, imbuhnya selalu ada 1 atau 2 astronot yang menemani. Mereka dari berbagai misi pada tahun-tahun yang berbeda. “Misal misi Apollo ini tahun ini, jadi sampai orang perempuan (astronot) itu sudah sepuh banget (sudah tua). Dia jadi astronot waktu muda, tapi sampai saat ini jadi peneliti di NASA untuk membimbing astronot baru,” kata perempuan asal Nganjuk, Jawa Timur yang tinggal di Kotagede, Jogjakarta ini.

Kemudian setiap 15 menitnya, berganti ke menu-menu pembelajaran lainnya. Seperti berkunjung ke museum, bertemu mekanik maupun penelitinya yang memberangkatkan para astronot ke luar angkasa atau bulan. “Tidak ada jarak di antara kami (peserta dengan astronot),” katanya.

Bahkan peserta pelatihan juga diberi kesempatan untuk mengikuti simulasi keberangkatan ke luar angkasa. Sampai pendaratan ke bumi, dan saat simulasi pesawat jatuh ke sebuah danau. “Di situ bagaimana kami bekerja sama, menyeret pilot yang tewas ke tepian,” katanya.

Sejak awal pelatihan itu, para guru pun didoktrin oleh para profesor agar peserta memposisikan diri sebagai seorang anak berumur 12 tahun. “Tidak ada bantah-membantah,” katanya.

Selain itu juga didoktrin agar peserta mencoba seluruh alat yang dimiliki oleh NASA. Meski mereka takut pada ketinggian, panik pada keramaian, atau tak suka dengan ruangan yang sempit. “Kalau tidak mencoba alat kami (NASA) rugi besar,” paparnya.

Selama mendapatkan pembelajaran langsung dari astronot, mereka pun berpesan kepada para guru peserta pelatihan astronot dan luar angkasa di kompleks National Aeronautics and Space Administration (NASA) agar para generasi yang akan datang atau anak didiknya untuk tak takut bermimpi besar.

Bercita-cita menjadi seorang astronot yang saat ini masih sangat jarang dan langka. “Jasa mereka (astronot) melebihi tentara dan polisi yang mengorbankan nyawa untuk negara. Tapi kalau astronot itu untuk bumi, untuk semua,” katanya lagi.

Lanjutnya, kebanyakan para peserta pelatihan dari seluruh dunia itu menanyakan bagaimana agar supaya menjadi astronot. Apakah harus pintar matematika, pernah juara lomba olimpiade internasional.

Ternyata semua itu bukan. Menurutnya, yang harus digarisbawahi adalah mereka yang ingin jadi astronot harus berani mati. “Harus siap mati dan berani berjuang untuk kepentingan bersama. Karena astronot itu kan bisa kembali dengan selamat, bisa juga kembali dengan peluncuran yang tidak sempurna dan tidak selamat,” kata perempuan yang bercita-cita ingin mempunyai sekolah untuk anak yatim ini.

Astronot dalam bekerjanya pun tidak sebentar. Mereka meninggalkan bumi sekitar 4-5 tahun. Waktu tersebut hanya dirasakan mereka di luar angkasa sekitar seminggu saja.

“Kan berbeda antara putaran bumi dan bulan. Jadi mungkin keluarganya menunggu 5 tahun, kok papahku gak pulang mamaku gak pulang, itu mereka kayak baru seminggu di sana (luar angkasa),” ucapnya. (Bersambung/dho/JPC)