Pemenang Program Astronot Amerika (Habis)

Nur Fitriana, guru SD Negeri Deresan Sleman, berkesempatan mengikuti pelatihan astronot.

Fitri ‘Astronot’, Sewaktu Kecil Pernah Ditolak Banyak Sekolahan

Meski telah menjadi seorang guru SD, dan pemenang program Astronot di Amerika. Siapa yang menyangka jika perjalanan Nur Fitriana semasa kecil tidaklah mudah. Ia bahkan pernah ditolak banyak sekolahan karena dianggap masih terlalu kecil. Bagaimana ceritanya?

Ridho, Jogjakarta

Menjadi seorang siswi yang berprestasi bahkan sebagai guru dengan segudang pengalaman, ternyata perjalanan pendidikan Nur Fitriana tak semudah dibayangkan. Saat masih kecil, ia bahkan pernah ditolak banyak sekolah di kampungnya Nganjuk, Jawa Timur (Jatim).

Fitri, yang saat itu tinggal di daerah Perumnas Candirejo, Kelurahan Gejakan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk tersebut mengaku saat masih berumur 5 tahun ingin masuk ke tingkat Sekolah Dasar (SD). Akan tetapi karena syaratnya yang kurang, ia pun ditolak.

“Yang pertama karena saya tidak punya ijazah TK (Taman Kanak-kanak). Kedua, karena umur saya belum cukup (7 tahun),” katanya, Senin (2/7) di SD Negeri Deresan Sleman, tempatnya saat ini mengajar.

Ia pun merasa bersyukur, salah 1 SD di kampungnya menerima. Tak disangka ketika di jenjang SD, kemudian Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Fitri sering ranking 1.

Kemudian dilanjutnya mengenyam pendidikan D2 jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Negeri Malang. Lalu Strata 1 (S1) di Universitas Terbuka (UT) Yogyakarta dengan jurusan yang sama dan S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Psikologi Pendidikan.

Selama menjadi guru, metode pembelajaran yang digunakannya pun lebih banyak praktek dibandingkan teori. Mengajak para siswa membuat beragam inovasi, seperti berinovasi kincir air diubah menjadi energi listrik. “Misal kincir air untuk ngecas hanphone,” katanya.

Berbagai inovasi atau praktek yang dilakukan itu, dibuatnya video untuk di-upload ke YouTube. Kemudian di-share ke wali muridnya agar mereka senang dan termotivasi.

Metode yang digunakannya itupun mendapatkan respon yang cukup baik oleh murid maupun orangtuanya. Siswanya pun semakin bersemangat untuk belajar.

Berbagai inovasi yang diajarkan kepada para siswa itu, ia mengaku mendapatkan inspirasi dari banyak membaca. Artikel-artikel milik orang lain, kemudian dimodifikasi temuannya tersebut.

Indah Lestari, kepala sekolah dari SD N Deresan mengatakan, Fitri baru mengajar di sekolahnya terhitung 3 tahun terakhir ini. Sebelumnya ia bertugas di SD Model Sleman.

Fitri pun menurutnya dalam mengambil sesuatu pelatihan tidak pernah pada waktu masa pembelajaran. Agar hak-hak para siswanya tetap diperoleh.

“Bu Fitri tidak pernah pelit ilmu. Setiap kali pelatihan, apa yang didapatkannya selalu disampaikan ke guru lain. Supaya guru lain pun bisa menguasainya,” pungkasnya. (dho/JPC)