Chairul Dani Kembangkan Pertanian Organik

Tika Hapsari
Chairul Dany, penggerak pertanian organik di Malang.

Sudah enam tahun, Chairul Dani, 51, mengembangkan pertanian organik. Jatuh bangun dia alami. Kini, puluhan petani sudah dia bimbing. Hasilnya, produktivitas pertanian meningkat tajam.

Antika Hapsari, Malang

Saat ditemui JawaPos.com Chairul Dany tengah berkutat di sepetak lahan pembibitan padi di rumahnya Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Bibit yang sudah layu, dia pinggirkan.

Petak pembibitan ini terletak di halaman rumahnya yang tidak terlampau luas. Beralas terpal, dan diberi tanah.

Usai memilah bibit padi, bapak lima anak itu mulai memberi pupuk. Dia racik serbuk pupuk di alat decomposer aerob. Dicampur dengan bahan lainnya. Hasilnya, adalah pupuk organik.

Ya, Dany merupakan petani organik. Namun, bukan itu keistimewaan yang dimiliki Dany. Dia dengan telaten mengembangkan pertanian tanpa bahan kimia lebih dari enam tahun. Mulai dari hulu hingga hilir.

Bukan hanya itu, dia juga sudah membina 35 petani. Mereka semua beralih dari sistem pertanian konvensional dengan bahan kimia sebagai penunjang, ke organik.

Dany merupakan laki-laki dengan latar belakang sarjana administrasi di salah satu kampus di Kota Malang. Sejak 2005, dia berdagang beras. Pekerjaannya ini membuat dia lebih banyak berinteraksi dengan para petani.

Dari sini, timbul keprihatinan dia soal perkembangan pertanian. Pasalnya, para petani hanya memikirkan urusan peningkatan hasil.

Salah satu caranya, dengan penggunaan bahan kimia. Namun, tidak memikirkan hasilnya pada kekayaan hayati di dalam tanah.

Dari keprihatinan itu, mendorong Dany untuk mempelajari pertanian organik. Ibarat kata, dia kembali belajar dari nol. Lahannya mencari ilmu, dari semua aspek. Mulai dari buku pertanian, internet, bergabung dengan komunitas pertanian organik dan beragam jalan lainnya.

“Saya prihatin saja, mereka menggunakan pupuk kimia. Padahal bisa buat tanah keras. Membuatnya netral, butuh waktu lama. Saya pikir, konsentrasi, bagaimana caranya berdayakan petani,” kata dia.

Cara yang dia ambil adalah konsentrasi untuk pendidikan pemupukan organik. Dari beragam sumber dia menggali ilmu. Salah satunya, ikuti kelompok bimbingan pemupukan Indonesia.

Kelompok ini adalah gabungan para sarjana pertanian dari IPB, Universitas Brawijaya (UB) dan kampus lainnya. Dari sini dia belajar bahan untuk pupuk organik.

Misalnya saja bekatul, tetes tebu dan beragam bakteri lainnya yang bisa menguraikan bahan dan menjadi pupuk kimia.

Setelah belajar secara otodidak soal pemupukan, laki-laki berkepribadian santai ini kemudian turun untuk menjadi penyuluh pertanian dan relawan pemupukan.

“Ternyata, ada jumlah yang tidak seimbang antara tenaga penyuluh pertanian dengan jumlah petani. Hal ini yang membuat para petani kurang terarah sehingga menggunakan pupuk kimia secara berlebihan,” imbuh laki-laki yang pernah diundang pada acara talk show salah satu teve nasional dengan pembawa acara Andy F Noya tersebut.

Berkumpul dengan petani, dia semakin gencar untuk membumikan gerakan pertanian organik. Awalnya, dia mendapatkan penolakan. Para petani masih belum bisa menerima model organik.

Bagi mereka, pemakaian bahan kimia sah-sah saja. Asalkan panen dengan hasil yang dirasa melimpah. Tidak putus asa, dia terus menyosialisasikan pertanian organik. Di lahan yang hanya beberapa hektar saja, Dany mulai menerapkan ilmu yang didapatkan secara otodidak.

Hasilnya cukup memuaskan, satu hektar sawah dapat menghasilkan satu ton padi, setiap kali panen. Tanpa menggunakan bahan kimia, mulai dari pembibitan hingga panen.

Melihat kesuksesannya ini, akhirnya petani yang awalnya antipati, sedikit demi sedikit mulai tertarik. Lambat laun, semakin banyak yang tergabung. Hingga akhirnya Dany mendirikan kelompok tani Singa Yudha.

Saat ini, anggotanya sudah 35 petani yang menggarap 15 hektar lahan. Mereka semua menerapkan sistem pertanian organik. Kegiatan di Singa Yudha beragam.

Mulai konsultasi pupuk organik, hingga penanganan secara alami jika tanaman mengalami penyakit. Pendek kata, Poktan ini sudah semacam klinik pertanian. Urusan beragam penyakit tanaman, ada di sana obatnya. Tentu saja, Dany sebagai dokternya.

Kegiatannya juga membimbing petani untuk bertani organik dengan benar. Mulai pembibitan, penanaman, panen hingga pengemasan dan penjualan, diajarkan di sini.

Para petani juga kerap mendapatkan penyuluhan. Tidak main-main, para profesor di bidang pertanian yang didatangkan.
Berkiprah bertahun-tahun di pertanian organik, membuat dia menciptakan inovasi di dunia pertanian. Dia membuat mesin yang dinamakan Booslem.

Booslem merupakan teknologi untuk booster essentials microba. Gunanya, mem-booster mikroba tertentu. Teknologi ini, dia adopsi dari luar negeri, Jerman.

“Belajarnya juga dari dunia maya. Rajin googling, baca buku dan trial and error,” imbuhnya.

Laki-laki yang juga punya background sebagai entertainer ini menjelaskan, unsur dari Booslem adalah humic acid, mineral micro, bekatul, tetes tebu dan bakteri pilihan.

Bukan hanya itu, dia juga menciptakan isolat yang berisi bakteri yang masing-masing berguna untuk peningkatan pertanian. Misalnya saja, meningkatkan hasil, mengobati penyakit tanaman atau pupuk.

“Ini namanya pembiak bakteri yang diinginkan, dicampurkan di Booslem dan busa digunakan sesuai kebutuhan,” kata dia.

Dua tahun, dia melakukan penelitian dan percobaan dengan cara otodidak. Tidak terhitung berapa jumlah rupiah dan bahan yang dikeluarkan.

Hasilnya, alat serbaguna dengan kapasitas 60 liter tercipta. Jika di luar negeri, lanjut dia, harga per unit mencapai Rp 25 juta. Namun, di Indonesia alat yang dia ciptakan hanya Rp 1,8 juta saja. Perbedaan yang cukup jauh.

“Dijual mahal bisa, tapi saya ingin memberdayakan petani. Hasil pertanian meningkat, ekonomi bagus, dan tanah tetap terjaga kelestariannya. Tanpa banyak kimia,” kata dia.

Bicara soal hasil, para petani binaannya itu kini sudah mengembangkan beras merah, putih dan hitam organik. Untuk beras merah dan hitam, masing-masing mengasikkan dua ton per bulan.

Sedangkan untuk putih, rata-rata 15 ton per bulan. Luasan lahan untuk beras putih lebih banyak jika dibandingkan kedua jenis lainnya.

“Panennya per bulan. Sistem organik itu ternyata lebih menguntungkan toh. Bisa panen tiap bulan, hasil melimpah. Coba bandingkan dengan konvensional pakai kimia. Panennya belum tentu sebulan sekali,” paparnya sambil meminum teh dingin di depannya.

Beras-beras itu, sudah dijual ke beragam daerah di Indonesia. Misalnya saja Jakarta, Bogor, Bali, Surabaya dan Jawa Tengah.

Harganya juga menjanjikan. Untuk beras merah organik, dibanderol Rp 22 ribu per kilogram. Beras hitam Rp 25 ribu per kilogram dan Rp 12 ribu per kilogram untuk beras putih.

Dikemas dengan teknologi kedap udara. Dia yakin, hasil berasnya jika sudah ditanak menjadi nasi, tidak cepat basi. “Di Poktan Singa Yudha, juga kami bantu pemasaran. Harga gabah, dibeli dengan tinggi. Di atas pasar,” tegasnya.

Kini, usahanya selama bertahun-tahun membuahkan hasil. Petani binaannya sudah hidup lebih baik. Harga gabah dan beras tinggi, penjualan ke beragam daerah dan tanah tetap terjaga.

Alasan lain Dany gencar mengembangkan pertanian organik, untuk menjaga agar ketahanan pangan tetap terjaga. Dia punya prinsip, jangan sampai petani padi mengalami kesulitan mendapatkan beras yang bagus dan berkualitas.

Dia juga ingin, agar taraf hidup mereka meningkat. Saat panen raya tiba, harga gabah dan beras tidak anjlok. Dengan beras organik, menurutnya, petani bisa membuat harga pasar tidak terpatok pada tengkulak.

“Membuat mereka tidak bergantung pada kimia. Petani berupaya memberikan beras terbaik, tapi mereka sendiri susah dapat yang berkualitas. Kalau panen raya, tidak banyak untung yang diambil,” tegasnya sambil menyesap tehnya. (tik/JPC)