Tiba di Jakarta, Joni Duduki Kursi ‘Menpora’ & Nonton Asian Games, juga Diberi Rp50 Juta

Ridwan
Joni, bocah si pemanjat tiang saat bersama Hotman Paris di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Hari yang tak akan pernah dilupakan Yohanes Ande Kala kemarin diakhiri dengan pengalaman istimewa. Nonton spektakulernya seremoni pembukaan Asian Games 2018 Si bocah pemanjat tiang bendera itu diajak Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi. Didampingi orang tua bocah 14 tahun yang akrab disapa Joni itu, Victorino Fahik Marshal (ayah) dan Lorena Gama (ibu).

Joni juga akan diajak ke berbagai venue hari ini (kemarin). Besok malam dia juga berkesempatan menyaksikan pertandingan penentuan di grup A antara Indonesia U-23 dan Hongkong U-23 di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi.

Sebab, siswa kelas VII SMP Silawan, Belu, Nusa Tenggara Timur, itu mengidolakan salah seorang penggawa Garuda Muda, sebutan tim nasional U-23 Indonesia. “Evan Dimas,” ucapnya saat ditanya siapa pemain idolanya.

Aksi memukau Yohanes Gama Marchal Lau, siswa Kelas 1 SMPN 1 Silawan ketika memanjat tiang bendera saat upacara Peringatan HUT RI (REZA KELEN FOR TIMOR EXPRESS).

Joni menarik perhatian luas setelah video yang memperlihatkan keberaniannya memanjat tiang bendera beredar luas pada Jumat (17/8). Persisnya, saat berlangsung upacara bendera di Pantai Motaain yang dipimpin Wakil Bupati Belu J.T. Ose Luan.

Nah, ketika tali putus, sang wakil bupati meminta tolong adakah di antara peserta upacara yang bisa memanjat tiang untuk melepaskan tali yang nyantol. Joni yang terbiasa memanjat pinang dan kelapa langsung spontan bereaksi.

Kemarin siang Joni dan orang tua, didampingi Kapolres Belu AKBP Christian Tobing dan Dandim 1605/Belu Letkol Putu Dwika, diterima Menpora di kantor. Selain membopong Joni dan mengajaknya ke ruang kerjanya, Imam mempersilakan Joni menjadi Menpora untuk sesaat.

Joni pun duduk di kursi Menpora dan Imam berdiri di sampingnya menunjukkan dokumen progres Asian Games.

“Persiapan akhir Asian Games seperti ini, Pak Joni,” canda Imam seraya membolak-balikkan dokumen di hadapan Joni.
Dia juga menghadiahi Joni tiga patung maskot Asian Games yang terbuat dari tembaga, perak, dan perunggu. Maskot itu sebelumnya dipajang di ruang tamu di ruang kerja Imam.

Nah, besok, sebelum ke Bekasi, Joni dijadwalkan bertemu Presiden Joko Widodo. Dan, dia pun sudah tahu apa yang akan disampaikan ke kepala negara. “Saya ingin ada beasiswa untuk teman-teman,” ujar bungsu sembilan bersaudara itu.
Bukan tanpa alasan keinginan tersebut disampaikan. Dia mengungkapkan, teman-temannya di sekolah dan beberapa sekolah lain di Belu masih ditarik biaya di sekolah.

Joni menuturkan, siswa di sekolahnya berjumlah sekitar 400 orang. “(Tiap) tiga bulan kami bayar Rp 150 ribu,” kata Victorino, sang ayah, yang sebelum referendum 1999 bermukim di Timor Timur (kini Timor Leste) itu.

Itu jumlah yang tidak sedikit bagi orang seperti Victorino. Tiga tahun terakhir dia didera sakit yang membuatnya sulit bekerja. Baru mulai awal tahun ini pria 55 tahun itu kembali menggarap kebun keluarga berukuran 25 x 40 meter. “Saya tanam jagung dan ubi di lahan itu,” tuturnya.

Belu merupakan kabupaten yang berbatasan langsung dengan Timor Leste. Banyak warga eks Timor Timur yang bermukim di sana.

Saat bertemu Menpora, Victorino dan Lorena mengenakan pakaian tradisional NTT dan kompak mengenakan syal tenun warna merah khas daerah setempat. Sementara itu, Joni mengenakan seragam yang digunakan dalam aksi heroiknya. Plus syal tenun merah yang sama dengan yang dikenakan orang tuanya.

Momen kali ini juga menjadi pengalaman pertama Joni dan kedua orang tua keluar dari Belu dan menjejak ibu kota Indonesia. Juga, pengalaman pertama naik pesawat. “Saya tidak tidur selama di pesawat,” ucap Joni yang bersama keluarga tinggal di desa yang hanya berjarak 20-30 km dari Bandara A.A. Bere Tallo, Belu, itu.

Apresiasi kepada Joni datang bertubi-tubi setelah aksi heroiknya. Mabes TNI menjamin akan memprioritaskan dia untuk bergabung menjadi tentara, profesi idaman Joni. Lalu, PLN menjamin beasiswa sampai lulus kuliah S-1.

Demikian pula Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Kami dapat perintah membangun ruangan sekolah yang diinginkan Joni,” terang Kepala LPMP NTT Muhammad Irfan yang kemarin mendampingi Joni.

Menurut dia, Joni minta sekolahnya dibangunkan aula. Juga, ruangan untuk kegiatan kreatif siswa.

Diganjar Rp 50 Juta dari Hotman Paris
Pengacara nyentrik Hotman Paris Hutapea memberikan uang sebesar Rp 50 juta kepada Yohanis Gama Marscahl Lau alias Joni (13), seorang anak yang nekat memanjat tiang bendera pada HUT RI ke-73.

Peristiwa tersebut terjadi saat upacara pengibaran bendera merah putih tengah berlangsung di lapangan Desa Silawan, kecamatan Tasifeto, Kabupaten Belu, sekitar 14 kilometer dari Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT). Joni yang merupakan siswa SMP, saat itu menjadi peserta salah satu upacara.

Hotman bertemu Joni di Warung Kopi Johny, Kelapa Gading, Jakarta Utara sekitar pukul 08.30 WIB, Minggu (19/8). Ia datang didampingi ibu serta ayahnya, Lorenza Gama dan Viktorlino Fahe Marschal.

“Saya hanya bisa memberikan uang permen Rp25 juta dan adik saya Duma Rp25 juga juga, jadi kau beli permen Rp50 juta,” ujar Hotman kepada Joni.

Ucapan Hotman dibalas senyum sumringah oleh Joni. Keduanya lalu melanjutkan perbincangan sambil bercanda. Hotman juga menanyakan alasan Joni mengapa nekat memanjat tiang bendera saat upacara HUT RI di NTT.

“Siapa yang suruh kau manjat tiang?” tanya Hotman. “Nggak ada yang nyuruh,” jawab Joni Singkat.

Setelah berbincang, Hotman mengajak Joni naik mobil Lamborghininya untuk mencari uang sebesar Rp50 juta. Joni pun senang menemukan segepok uang tersebut dengan pecahan Rp50 ribuan itu.

Siswa SMP itu juga sempat diajak Hotman merasakan berkeliling dengan Lamborghini. Setelah itu Joni yang kegirangan disuruh naik ke atap mobil sambil memamerkan uang di tangannya.

“Merdeka, merdeka,” ucap Joni saat berada di atap Lamborghini orange milik pengacara yang dikenal dekat dengan perempuan-perempuan cantik itu. (rdw/JPC)