Sepak Terjang Dai ‘Nyeleneh’ Gus Miftah

Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah.

Blusukan Klub Malam, Lokalisasi hingga Salon Plus-plus Demi Berdakwah

Baru-baru ini netizen dihebohkan dengan viralnya seorang dai muda asal Jogjakarta yang mengajak salawatan Lady Companion (pemandu karaoke) di sebuah klub malam di Bali. Usut punya usut, pria tersebut adalah Gus Miftah. Bagaiamana sepak terjangnya.

Ridho Hidayat, Jogjakarta

Bagi kebanyakan dai atau ulama, berdakwah yang praktis adalah di masjid-masjid atau tempat pengajian. Selain representatif hal itu juga lazim lantaran dianggap lebih pas. Namun tidak begitu halnya dengan Gus Miftah. Ia memilih blusukan ke klub malam, tempat lokalisasi hingga salon plus-plus untuk berdakwah. Ada beragam alasan kenapa dai muda 37 tahun tersebut memilih tempat-tempat yang tidak lazim dalam berdakwah. Ada banyak hal yang menurutnya tidak bisa digambarkan.

Namun kepada JawaPos.com, dai muda pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji di Dusun undan, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, Jogjakarta ini mengungkapkan alasan sesungguhnya tentang ajakan salawatnya kepada para Lady Companion (LC) di Bali.

Tak hanya bersalawat saja, bahkan pria yang mempunyai nama lengkap Miftah Maulana Habiburrahman ini sering mengajak takbiran, mengaji, hingga salat berjamaah. Gus Miftah sengaja memilih tempat seperti klub malam, lokasi prostitusi, maupun Pusat Kesenangan Mas-mas atau yang disebutnya Puskesmas sebagai ladang dakwahnya.

Alasannya simpel, karena anak dunia malam umumnya dipandang sebelah mata. “Mereka dianggap negatif, kaum marjinal. Tapi saya selalu mengatakan kepada anak-anak itu, orang baik itu punya masa lalu dan orang jelek itu punya masa depan. Janganlah kita menjadi hakim,” katanya.

Pilihannya berdakwah di tempat-tempat seperti itu, disadari betul pasti ke depan menimbulkan kontroversi. Karena mempersoalkan adat, etika, dan sebagainya. “Saya pikir bahasa agama itu luas,” katanya.

Ada banyak komentar, terlebih setelah viral video di jejaring sosial saat dakwah di Boshe Bali itu. Bahasa-bahasa netizen yang cenderung pedas pun baginya tak masalah.  “Tidak apa-apa, karena ini caraku, ini jalanku, dan ini metodeku. Boleh kamu mengkafirkan aku, menyesatkanku, boleh menyalahkan aku. Tapi jangan halangi mereka untuk bermesraan dengan Tuhan, dengan Rasul,” kata Gus Miftah.

Perjalanan dakwah di klub malam hingga blusukan ke tempat prostitusi sudah dilakukannya sejak lama. Untuk klub malam di Bali, Gus Miftah mengaku sudah 8 tahun. Sementara untuk dakwahdi kafe, lokalisasi atau salon plus-plus di Jogjakarta sudah hampir kurang 14 tahun.

Tak hanya komentar pedas saja, namun ia juga sering mendapatkan hal-hal yang tak mengenakkan selama menjalani dakwah ini. Salah satu kisahnya di sebuah klub malam di Jogja. “Sore saat Magrib, ada orang yang mabuk berat. Saya imami salat berjamaah. Tiba-tiba orang mabuk itu menantang, berteriak agar berhenti (salatnya),” ucapnya.

Sontak ia pun meresponnya, menanyakan maksud tantangan itu. Ternyata orang mabuk itu meminta berhenti karena ingin diajak untuk ikut salat berjamaah. “Banyak kisah-kisah seperti itu, sudah bertahun-tahun juga berjalan,” kata dia.

Kemudian juga kisahnya ketika masuk ke tempat prostitusi di Pasar Kembang (Sarkem) Jogjakarta. Pada tahun 2000an, ia salat tahajud di sebuah Musola ditemani oleh seorang tokoh yang dianggap ‘penguasa’ di sana.

“Saya awalnya mau dihabisi, lalu saya sampaikan visi misi akhirnya beliau (penguasa di Sarkem) itu menerima. Sempat off beberapa tahun, tapi 4 tahun terakhir mulai lagi,” katanya.

Selama menjalani dakwah di tempat kaum marjinal ini, ia pun mengaku mengeluarkan biaya sendiri. Baik itu di Jogja maupun di Bali. Sedikitpun, dirinya tak menerima imbalan uang dari pemilik klub.

“Sampai sekarang masih seperti ini. Saya biaya sendiri, cari hotel, transportasi. Bahkan setiap saya ke Sarkem, saya bawakan makanan, sajadah, maupun Mukena kepada mereka,” ucapnya.

Meski terkadang mendapat cibiran, namun tidak menghentikan Gus Miftah untuk terus berdakwah. Menurutnya ada kepuasan tersediri mengajak para kaum marjinal kembali ke jalan yang lurus.

Rangkul LC dan PSK
Meski terus mendapatkan cibiran, namun tidak membuat Gus Miftah berhenti berdakwah di tengah-tengah kaum yang terpinggirkan. Klub malam, tempat prostitusi hingga salon plus-plus telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Bagaimana ceritanya.

Bertahun-tahun berdakwah di klub malam, dan bercengkrama dengan banyak orang membuat Gus Miftah semakin meyakini tujuan hidupnya.

Dengan merogoh kocek pribadi, pria berusia 37 tahun tersebut rela blusukan untuk mengajak para pemandu karaoke (Lady Companion) hingga Pekerja Seks Komersial (PSK) kembali ke jalan yang benar.

Jalan dakwahnya telah digariskan. Kini, dakwahnya di klub malam, tempat prostitusi hingga salon plus-plus mulai menampakkan hasilnya. Respons para pekerja malam pun mulai terlihat. Bahkan, menurut pria yang akrab disapa Gus Miftah itu mengaku banyak yang mencarinya ketika dirinya jarang menyapa jamaahnya.

“Ternyata anak-anak (klub malam) banyak yang berharap juga. Kalau di Bali saya lama enggak kelihatan, saya di-japri (kirim pesan). Menanyakan, kapan ke sini lagi,” katanya kepada JawaPos.com, Rabu (12/9).

Agar materi yang disampaikannya lebih cepat ditangkap oleh jamaah, ia pun menggunakan metode seperti stand up comedy. Memakai bahan yang dihiasi dengan candaan-candaan. Namun pada akhir-akhir materi, selalu disisipkan dengan hal-hal yang lebih mendalam. Sehingga tak jarang membuat mereka menangis.

Jamaahnya setelah mengikuti pengajian pun merasakan kebutuhannya untuk mendapatkan siraman rohani. Terlebih, Pekerja Seks Komersial (PSK) jarang mendapatkan ajaran seperti itu. Ketika kaum-kaum seperti itu berniat ingin ikut pengajian di tempat umum pun merasa risih. Karena pastinya anggapan dari jamaah lain yang cenderung negatif.

Masalah mereka bertobat atau apakah mendapatkan hidayah atau tidak, itu sudah bukan jangkauannya. Meski diakuinya banyak jamaah yang memberitahukan kalau tak lagi bekerja di klub malam sebagai PSK. “Hidayah itu harus dijemput. Kalau hidayah itu datang, itu bukan karena saya. Tapi karena Allah sudah menghendaki mendapat hidayah,” katanya.

Pengasuh dari pondok pesantren Ora Aji di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) itu pun akan terus melakukannya. Berdakwah di tempat-tempat kaum marjinal.  Terlebih beberapa ulama, salah seorang Abah Habib Luthfi dari Pekalongan, Jawa Tengah (Jateng) mengizinkannya. “Lanjutkan, jarang yang bisa seperti kamu,” kata Gus Miftah, menirukan perkataan ulama Habib Luthfi.

Kini, jalan panjang Gus Miftah masih menanti. Ia pun berharap dengan metodenya tersebut membuat orang kembali ke jalan yang benar. Dan meninggalkan perbuatan sesat yang selama ini dilakoninya. Tidak mudah memang, tetapi namanya berdakwah bisa dimana saja. “Sekali lagi, urusan hidayah itu hanya milik Allah,” pungkasnya. (dho/JPC)