Bonus untuk Beli Tanah dan Nyicil Bangun Rumah

Bagikan:
Saiful Rijal bersama rekan-rekannya

Saiful Rijal bersama rekan-rekannya meraih medali emas Asian Games 2018 dari nomor kuadran cabor sepak takraw.

Saat pertandingan final melawan Jepang berlangsung, jutaan pasang mata menyaksikan perjuangan tim sepak takraw Indonesia.

Semua bersukacita begitu medali emas dari sepak takraw berhasil diraih. Itulah medali emas terakhir yang direngkuh Indonesia dalam Asian Games 2018. Membuat Indonesia mendulang 31 medali emas.

Setelah final itu, orang-orang pun memperbincangkan sepak takraw. Menjadi hafal nama-nama pemainnya. Terutama nama Nofrizal dan Saiful Rijal. Semua pun seperti menjadi ngeh bahwa ada olahraga itu.

’’Alhamdulillah, sekarang sepak takraw ramai dibicarakan orang. Itulah bonus yang membahagiakan saya,’’ ungkap Rijal.

Pria asal Lumajang tersebut tidak memungkiri bahwa dirinya begitu senang dengan guyuran bonus ratusan juta rupiah dari pemerintah. Dia juga sangat bahagia bisa mempersembahkan medali emas untuk Indonesia.

Namun, kebahagiaan terbesarnya saat ini adalah melihat sepak takraw diperbincangkan dalam keseharian.

Sepak takraw sejatinya pernah ramai dimainkan orang pada 2006. Namun, itu tak lama. Selepas 2010, sepak takraw tenggelam. Nah, Asian Games 2018 bagaikan menjadi jembatan bagi sepak takraw untuk dikenal kembali oleh masyarakat.

’’Dan saya sangat senang masyarakat bisa tertawa lagi ketika melihat sepak takraw,’’ kata Rijal. Dia pun berharap sepak takraw setelah ini tidak lagi sekadar diperbincangkan. ’’Tapi, sepak takraw bangkit dan dimainkan banyak orang. Terutama anak-anak sekolah,’’ ujar pria 27 tahun tersebut.

Lalu, bagaimana dengan bonus uang dari pemerintah? ’’Kalau itu, belum kepikiran dibuat apa. Disimpan dulu di bank saja,’’ katanya. Jika Rijal belum terpikir mau dikemanakan uang bonus yang diterimanya, tidak demikian halnya dengan Nofrizal. Nofrizal berencana berinvestasi. ’’Ya, beli tanah sama nyicil bangun rumah. Kecil-kecil dulu,’’ ungkapnya.

Kebetulan, di luar bermain sepak takraw, Nofrizal tidak memiliki pekerjaan lain. Karena itu, dia terpikir untuk berinvestasi. Langkah tersebut dilakukan demi menghidupi istri dan anaknya. Sebab, dia menyadari, profesi atlet tidaklah panjang. Apalagi atlet sepak takraw yang tidak ada kompetisi rutinnya.

’’Masa produktif paling panjang 10 tahun. Selain investasi, saya berharap jaminan menjadi PNS segera terealisasi,’’ ujar Nofrizal yang sepulang dari Asian Games langsung mengunjungi pusara anak keduanya, Muhammad Gibran, yang meninggal sepekan setelah Lebaran lalu. (gil/han/c5/fim)

Bagikan: