Eksistensi Pesantren Dalam Sistem Pendidikan Nasional

Metro Siantar.Com - PESANTREN merupakan lembaga pendidikan yang mempunyai sejarah panjang dan unik. Secara historis, pesantren termasuk pendidikan Islam yang paling awal dan masih bertahan sampai sekarang. Berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan yang muncul kemudian, pesantren telah sangat berjasa dalam mencetak kader–kader ulama, dan kemudian berperan aktif dalam penyebaran agama Islam dan transfer ilmu pengetahuan. Namun, dalam perkembangan pesantren telah mengalami transformasi yang memungkinkannya kehilangan identitas jika nilai–nilai tradisonalnya tidak dilestarikan. Karena keunikannya itu maka pesantren hadir dalam berbagai situasi dan kondisi dan hampir dapat dipastikan bahwa lembaga ini, meskipun dalam keadaan yang sangat sederhana dan karekteristik yang beragam, tidak pernah mati. Demikian pula semua komponen yang ada didalamnya seperti kyai atau ustadz serta para santri senantiasa mengabdikan diri mereka demi kelangsungan pesantren. Tentu saja ini tidak dapat diukur dengan standar system pendidikan modern dimana tenaga pengajarnya dibayar, karena jerih payahnya, dalam bayaran dalam bentuk material. Pesantren tidak bisa dilepaskan dari sistem pendidikan nasional Indonesia. Peran pesantren dalam memajukan pendidikan nasional telah membuktikan eksistensinya. Keperipurnaan pondok pesantren harus dipahami dan dilihat dari berbagai aspek. Pada awal tahun70-an, sebagian kalangan menginginkan pesantren memberikan pelajaran umum bagi para santrinya. Hal ini melahirkan perbedaan pendapat di kalangan para pengamat dan pemerhati pondok pesantren. Sebagian berpendapat bahwa pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang khas dan unik harus mempertahankan ketradisionalannya. Namun pendapat lain menginginkan agar pondok pesantren mulai mengadopsi elemen-elemen budaya dan pendidikan dari luar. Dari dua pandangan yang berbeda tersebut, terlahir pula keinginan yang berbeda di kalangan para pengelola pesantren. Kelompok pertama menginginkan agar pesantren tetap mempertahankan posisinya seperti semula dengan sistem yang khas. Sedangkan kelompok kedua menginginkan agar pesantren mulai mengadopsi atau mengakodmodasi sistem pendidikan sekolah atau madrasah ke dalam sistem pendidikan pesantren. Akhirnya terjadilah persentuhan antara pondok pesantren dengan madrasah dan sekolah. Pondok pesantren yang memiliki kreteria tertentu dianggap telah mapan, didukung oleh persyaratan yang cukup mapan, seperti bangunan, tanah, guru yang berkompeten, murid-murid yang banyak  serta tersedianya tenaga administrasi. Pondok pesantren yang seperti inilah yang dianggap layak untuk mengakomodasi sistem pendidikan formal atau elemen pendidikan lainnya yang berasal dari luar. Sebaliknya, pondok pesantren yang tidak memiliki dan memenuhi kriteria di atas tentu saja tidak bisa memaksakan kehendak untuk mengadopsi sistem pendidikan dari luar. Selain itu ada beberapa alternatif yang juga dikembangkan di lingkungan pesantren. Ada yang mengakomodasi sistem pendidikan formal ala sekolah umum atau madrasah dengan tetap mempertahankan sistem pendidikan pesantren, dengan memisahkan area untuk sekolah madrasah atau sekolah umum dengan area khusus untuk pesantren. Sejalan dengan  perkembangan dan perubahan bentuk pesantren, Menteri Agama RI. Mengeluarkan peraturan nomor 3 tahun 1979, yang mengklasifikasikan pondok pesantrenPeraturan Pemerintah, dalam hal ini Menteri Agama yang mengelompokkan pesantren menjadi empat tipe yang bukan suatu keharusan bagi pondok pesantren tersebut: Pertama, Pesantren tipe A, yaitu dimana para santri belajar dan bertempat tinggal di Asrama lingkungan pondok pesantren dengan pengajaran yang berlangsung secara tradisional (sistem wetonan atau sorogan). Kedua, Pesantren tipe B, yaitu yang menyelenggarakan pengajaran secara klasikal dan pengajaran oleh kyai bersifat aplikasi, diberikan pada waktu-waktu tertentu. Santri tinggal di asrama lingkungan pondok pesantren. Ketiga, Pesantren tipe C, yaitu pondok pesantren hanya merupakan asrama. Sedangkan para santrinya belajar di luar (di madrasah atau sekolah umum lainnya), kyai hanya mengawas dan sebagai pembina para santri tersebut. Keempat, Pesantren tipe D, yaitu yang menyelenggarakan sistem pondok pesantren dan sekaligus sistem sekolah atau madrasah. Mengkombinasikan antara kurikulum pesantren dengan kurikulum yang ditetapkan pemerintah. Namun, pemerintah menyikapi dan menghargai perkembangan serta perubahan yang terjadi pada pondok pesantren itu sendiri, walaupun perubahan dan perkembangan pondok pesantren tidak hanya terbatas pada empat tipe saja, namunakan lebih beragam lagi. Dari tipe yang sama akan terdapat perbedaan-perbedaan tertentu  yang menjadikan satu sama lain akan berbeda. Pondok pesantren yang dahulunya sistem pengajaran dan materi pengajarannya terfokus kepada ilmu-ilmu kegamaan, mulai berkembang dengan mengakomodasi elemen-elemen kurikulum dari sistem pendidikan nasional. Tuntutan sistem pendidikan di Indonesia telah mengharuskan pesantren untuk mengikuti atau menyetarakan standarnya dengan kurikulum pendidikan nasional. Seiring dengan tuntutan tersebut, departemen yang berkaitan dengan pesantren juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang turut memajukan dan memberikan peluang bagi pesantren untuk mengembangkan diri. Mengikuti perkembangan zaman, beberapa pesantren mulai memasukkan pelajaran keterampilan sebagai salah satu materi yang diajarkan. Ada keterampilan berternak, bercocok tanam, menjahit, berdagang dan lain sebagainya. Disisi lain ada juga pesantren yang cenderung fokus pada prestasi ilmu pengetahuan umum yang dikombinasikan dengan pengetahuan dasar agama. Seperti Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid (PDM) di Tapanuli Selatan. Pengetahuan dan pengamalan ajaran agama Islam menjadi dasar dan hal pokok yang mesti dimiliki oleh santrinya. Namun disisi lain mereka ingin berjaya dalam dunia sains. Kini perlahan tapi pasti Pesantren Darul Mursyid yang dikenal dengan singkatan PDM tersebut mulai mengubah paradigma yang selama ini yakni kalangan pesantren atau santrinya “lemah” dalam ilmu pengetahuan sains. Prestasi sains mereka bukan hanya ditingkat lokal tapi juga di tingkat provinsi bahkan di tingkat Nasional. Bahkan secara tegas mereka menyatakan bahwa pesantren tersebut dibangun buikan untuk menghasilkan dai atau muballigh tapi mencetak calon-calon intelektual yang muslim. Tentu pro kontra tetap ada, tapi yang terpenting adalah semua punya keinginan yang sama yakni mencerdaskan anak bangsa yang dengannya akan lahir generasi yang membawa kemajuan dan kesejahteraan negara dimasa yang akan datang. (*) Penulis adalah Guru di Pesantren Modern Unggulan Terpadu “Darul Mursyid”, Tapanuli Selatan.

Metro Siantar.Com – PESANTREN merupakan lembaga pendidikan yang mempunyai sejarah panjang dan unik. Secara historis, pesantren termasuk pendidikan Islam yang paling awal dan masih bertahan sampai sekarang. Berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan yang muncul kemudian, pesantren telah sangat berjasa dalam mencetak kader–kader ulama, dan kemudian berperan aktif dalam penyebaran agama Islam dan transfer ilmu pengetahuan. Namun, dalam perkembangan pesantren telah mengalami transformasi yang memungkinkannya kehilangan identitas jika nilai–nilai tradisonalnya tidak dilestarikan.

Karena keunikannya itu maka pesantren hadir dalam berbagai situasi dan kondisi dan hampir dapat dipastikan bahwa lembaga ini, meskipun dalam keadaan yang sangat sederhana dan karekteristik yang beragam, tidak pernah mati.
Demikian pula semua komponen yang ada didalamnya seperti kyai atau ustadz serta para santri senantiasa mengabdikan diri mereka demi kelangsungan pesantren. Tentu saja ini tidak dapat diukur dengan standar system pendidikan modern dimana tenaga pengajarnya dibayar, karena jerih payahnya, dalam bayaran dalam bentuk material.
Pesantren tidak bisa dilepaskan dari sistem pendidikan nasional Indonesia. Peran pesantren dalam memajukan pendidikan nasional telah membuktikan eksistensinya. Keperipurnaan pondok pesantren harus dipahami dan dilihat dari berbagai aspek.

Pada awal tahun70-an, sebagian kalangan menginginkan pesantren memberikan pelajaran umum bagi para santrinya. Hal ini melahirkan perbedaan pendapat di kalangan para pengamat dan pemerhati pondok pesantren.
Sebagian berpendapat bahwa pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang khas dan unik harus mempertahankan ketradisionalannya. Namun pendapat lain menginginkan agar pondok pesantren mulai mengadopsi elemen-elemen budaya dan pendidikan dari luar.
Dari dua pandangan yang berbeda tersebut, terlahir pula keinginan yang berbeda di kalangan para pengelola pesantren. Kelompok pertama menginginkan agar pesantren tetap mempertahankan posisinya seperti semula dengan sistem yang khas.

Sedangkan kelompok kedua menginginkan agar pesantren mulai mengadopsi atau mengakodmodasi sistem pendidikan sekolah atau madrasah ke dalam sistem pendidikan pesantren. Akhirnya terjadilah persentuhan antara pondok pesantren dengan madrasah dan sekolah.

Pondok pesantren yang memiliki kreteria tertentu dianggap telah mapan, didukung oleh persyaratan yang cukup mapan, seperti bangunan, tanah, guru yang berkompeten, murid-murid yang banyak  serta tersedianya tenaga administrasi. Pondok pesantren yang seperti inilah yang dianggap layak untuk mengakomodasi sistem pendidikan formal atau elemen pendidikan lainnya yang berasal dari luar.
Sebaliknya, pondok pesantren yang tidak memiliki dan memenuhi kriteria di atas tentu saja tidak bisa memaksakan kehendak untuk mengadopsi sistem pendidikan dari luar.

Selain itu ada beberapa alternatif yang juga dikembangkan di lingkungan pesantren. Ada yang mengakomodasi sistem pendidikan formal ala sekolah umum atau madrasah dengan tetap mempertahankan sistem pendidikan pesantren, dengan memisahkan area untuk sekolah madrasah atau sekolah umum dengan area khusus untuk pesantren.
Sejalan dengan  perkembangan dan perubahan bentuk pesantren, Menteri Agama RI. Mengeluarkan peraturan nomor 3 tahun 1979, yang mengklasifikasikan pondok pesantrenPeraturan Pemerintah, dalam hal ini Menteri Agama yang mengelompokkan pesantren menjadi empat tipe yang bukan suatu keharusan bagi pondok pesantren tersebut:
Pertama, Pesantren tipe A, yaitu dimana para santri belajar dan bertempat tinggal di Asrama lingkungan pondok pesantren dengan pengajaran yang berlangsung secara tradisional (sistem wetonan atau sorogan).

Kedua, Pesantren tipe B, yaitu yang menyelenggarakan pengajaran secara klasikal dan pengajaran oleh kyai bersifat aplikasi, diberikan pada waktu-waktu tertentu. Santri tinggal di asrama lingkungan pondok pesantren.
Ketiga, Pesantren tipe C, yaitu pondok pesantren hanya merupakan asrama. Sedangkan para santrinya belajar di luar (di madrasah atau sekolah umum lainnya), kyai hanya mengawas dan sebagai pembina para santri tersebut.
Keempat, Pesantren tipe D, yaitu yang menyelenggarakan sistem pondok pesantren dan sekaligus sistem sekolah atau madrasah. Mengkombinasikan antara kurikulum pesantren dengan kurikulum yang ditetapkan pemerintah.
Namun, pemerintah menyikapi dan menghargai perkembangan serta perubahan yang terjadi pada pondok pesantren itu sendiri, walaupun perubahan dan perkembangan pondok pesantren tidak hanya terbatas pada empat tipe saja, namunakan lebih beragam lagi. Dari tipe yang sama akan terdapat perbedaan-perbedaan tertentu  yang menjadikan satu sama lain akan berbeda.

Pondok pesantren yang dahulunya sistem pengajaran dan materi pengajarannya terfokus kepada ilmu-ilmu kegamaan, mulai berkembang dengan mengakomodasi elemen-elemen kurikulum dari sistem pendidikan nasional. Tuntutan sistem pendidikan di Indonesia telah mengharuskan pesantren untuk mengikuti atau menyetarakan standarnya dengan kurikulum pendidikan nasional.
Seiring dengan tuntutan tersebut, departemen yang berkaitan dengan pesantren juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang turut memajukan dan memberikan peluang bagi pesantren untuk mengembangkan diri.

Mengikuti perkembangan zaman, beberapa pesantren mulai memasukkan pelajaran keterampilan sebagai salah satu materi yang diajarkan. Ada keterampilan berternak, bercocok tanam, menjahit, berdagang dan lain sebagainya.
Disisi lain ada juga pesantren yang cenderung fokus pada prestasi ilmu pengetahuan umum yang dikombinasikan dengan pengetahuan dasar agama. Seperti Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid (PDM) di Tapanuli Selatan. Pengetahuan dan pengamalan ajaran agama Islam menjadi dasar dan hal pokok yang mesti dimiliki oleh santrinya. Namun disisi lain mereka ingin berjaya dalam dunia sains.

Kini perlahan tapi pasti Pesantren Darul Mursyid yang dikenal dengan singkatan PDM tersebut mulai mengubah paradigma yang selama ini yakni kalangan pesantren atau santrinya “lemah” dalam ilmu pengetahuan sains.
Prestasi sains mereka bukan hanya ditingkat lokal tapi juga di tingkat provinsi bahkan di tingkat Nasional. Bahkan secara tegas mereka menyatakan bahwa pesantren tersebut dibangun buikan untuk menghasilkan dai atau muballigh tapi mencetak calon-calon intelektual yang muslim. Tentu pro kontra tetap ada, tapi yang terpenting adalah semua punya keinginan yang sama yakni mencerdaskan anak bangsa yang dengannya akan lahir generasi yang membawa kemajuan dan kesejahteraan negara dimasa yang akan datang. (*)

Penulis adalah Guru di Pesantren Modern Unggulan Terpadu “Darul Mursyid”, Tapanuli Selatan.