KPw BI Siantar dan Kelompok Tani Panen Perdana

Patiar
Panen perdana bawang merah KPw BI Siantar bersama kelompok tani, dan Pemkab Batubara.

MetroSiantar.com – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Pematangsiantar Elly Tjan, melalui Kepala Unit Pengembangan Ekonomi Elisabet Silitonga, bersama Pemerintahan Kabupaten Batubara dan Kelompok Tani Maju Tani yang ada di Dusun VII, Desa Tanjung Kubah, Kecamatan Air Putih, melaksanakan panen perdana bawang merah, Jumat (9/2).

Lewat kegiatan ini, Kepala KPw BI berharap inflasi di Sumatera Utara (Sumut) khususnya di wilayah kerjanya, terlebih di Batubara, dapat tetap normal.

Dijelaskan, BI merupakan bank sentral Indonesia yang memiliki satu tujuan tunggal yaitu mencapai dan memelihara kestabilan rupiah, yang tercermin dari inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

Dalam rangka mewujudkan inflasi yang rendah dan stabil, BI senantiasa memantau perkembangan harga komoditas, dan menganalisis penyebab terjadinya inflasi atau kenaikan harga. Bawang merah merupakan salah satu komoditas yang memiliki bobot konsumsi yang besar, dan mempengaruhi inflasi. Produksi bawang merah di Sumut belum mampu memenuhi jumlah kebutuhan konsumsi masyarakat.

Sebagai upaya untuk menekan fluktuasi harga komoditas bawang merah, perlu dilakukan upaya peningkatan produktivitas dan pengaturan pola tanam untuk menjaga kontinuitas produksi.

Untuk meningkatkan produktivitas, penggunaan benih unggul menjadi salah satu faktor penting. Menyadari terbatasnya pasokan benih bawang merah yang telah dimulai penanamannya pada tanggal 4-5 Desember 2017 lalu. Dalam program ini, kami juga menggandeng tim ahli dari BPTP Sumut untuk melaksanakan pelatihan terlebih dahulu yang telah dilaksanakan 2 November 2017.

Untuk program kali ini, BI bersama kelompok tani melakukan penanaman pada lahan seluas 6.5 rante dengan penggunaan bibit sebanyak 300 Kg. Varietas yang ditanam mayoritas merupakan variaetas trisula (90 persen). Sementara, sisanya adalah varietas bauji, Tanjung dan manjung.

Seluruh kebutuhan produksi berupa bibit, pupuk, obat-obatan serta saprodi lainnya difasilitasi oleh KPw BI Pematangsiantar melalui program Sosial Bank Indonesia (PSBI) periode 2017. “PSBI merupakan salah satu bentuk kepedulian BI kepada masyarakat. Melalui program tersebut BI berinisiatif untuk memberikan bantuan yang mencakup kegiatan sosial bidang pendidikan, kebudayaa, keagamaan, dan lainnya temasuk kegiatan peningkatan kapasitas ekonomi untuk ketahanan pangan strategis, unggulan dan ekonomi kreatif,” jelasnya.

Program pengendalian inflasi dan PSBI diharapkan tepat sasaran dalam menjaga ketahanan pangan strategis yang mendukung pengendalian inflasi. Melalui kegiatan penangkaran bawang merah itu, petani diharapkan dapat meningkatkan produktivitas benih bawang merah, terutama untuk mencukupi benih, dan dalam jangka panjang mampu menjadikan Kabupaten Batubara sebagai sentra produksi bawang merah di tingkat Provinsi Sumut, maupun tingkat nasional.

“Besar harapan kami demplot penangkaran bawang merah ini dapat dimanfaatkan secara optimal dan dapat mendukung peningkatan produktivitas bawang merah, serta mampu menjadikan Kelompok Tani Maju Tani sebagai contoh bagi kelompok tani lain di sekitarnya, untuk dapat menjadi petani atau penangkar bawang merah,” ucapnya.

Ketua Kelompok Tani Maju Tani, Nurmansyah menyampaikan banyak terima kasih atas bantuan BI. Ia mengakui, selama ini banyak petani bergelut menanam bawang merah tetapi seringkali menghadapi kendala mendapatkan bibit, dan cenderung harganya sampai ke tangan petani cukup mahal. Dlam kesempatan ini, ia juga mengharapkan suport dari Pemkab Batubara untuk pengadaan gudang, karena pasca panen bawang merah, petani cenderung menghadapi masalah.

“Pasca panen bawang merah harus ada penyimpanan yang baik. Bawang merah ini berbeda dengan padi. Bawang tidak boleh terlalu panas dan lembab. Bisa busuk. Untuk itu, petani sangat membutuhkan gudang penyimpanan agar ada tempat sebelum menjual bawang merah,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Batubara melalui Asisten II Perekonomian, Renold Asmara mengapresiasi program BI, apalagi setiap program terlebih dahulu melakukan survei atas kebutuhan masyarakat, sehingga bantuan tersebut benar-benar meningkatkan perekonomian dan mampu menjaga inflasi. “Kenapa bawang merah? Karena salah satu dari lima komoditas yang mempengaruhi inflasi. Inflasi ini sangat penting kita kendalikan. Jika tidak maka harga-harga kebutuhan di satu daerah tertentu akan meningkatkan dan kemampuan daya beli masyarakat akan terganggu,” sebutnya.

Renold menambahkan, bawang merah yang dipanen bukan untuk dikonsumsi melainkan bibit pada musim tanam berikutnya, dan diharapkan produksinya tetap meningkat sehingga di kemudian hari dapat dipergunakan sendiri dan dikirim ke daerah lainnya.

“Memang program seperti yang kita harapkan dari BI,” katanya sembari menambahkan, dalam hal menjawab petani bahwa rencana BI juga di tahun ini membangun gudang panen bawang merah dan saat ini sedang proses survei kelayakan.(pam/ahu)