Pangulu dan Sekdes Ditahan… Kaur Diangkat Jadi Pjs

Ist
Oknum Pangulu S dan SP saat menjalani pemeriksaan di Unit Idik IV Satreskrim Polres Simalungun.

MetroSiantar.com – Menyikapi penahanan oknum Pangulu Nagori Mariah Jambi berinisial S dan Sekdes KM atas kasus penganiayaan terhadap seorang warga, pihak Kecamatan Jawa Maraja Bah Jambi menggelar rapat dan memutuskan Zulkifli, salah satu kepala urusan (kaur), menjadi pejabat sementara di Nagori Mariah Jambi. Keputusan ini diambil agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu.

Camat Jawa Maraja Bah Jambi, Bahrum Harahap SH MH saat dikonfirmasi METRO SIANTAR, Senin (12/2) mengatakan, saat ini pihaknya sudah melakukan rapat bersama dengan unsur Nagori dan pihak Kecamatan Jawa Maraja Bah Jambi.

Sementara pengacara korban Ramses Pandiangan SH saat ini sudah melayangkan surat kepada pihak Polres Simalungun agar para tersangka tidak diberikan kemudahan hukum dalam bentuk apapun termasuk penangguhan, mengingat kasus tersebut merupakan kasus perlindungan terhadap anak. Dan perbuatan para tersangka tersebut tergolong cukup kejam, dan tidak memberikan contoh yang baik bagi warganya. Serta sebagai seorang pangulu dan Sekdesnya yang seharusnya melindungi warganya sendiri, bukan malah melakukan tindakan yang manusiawi.

“Tujuan permohonan kami kepada pihak kepolisian agar penerapan hukum yang dilakukan oleh Polres Simalungun dapat memberikan efek jera bagi pejabat setingkat dengannya, agar dalam memimpin harus lebih kepada pengayoman,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, oknum Pangulu Nagori Mariah Jambi Kecamatan Jawa Maraja Bah Jambi berinisial S (49) dan oknum Sekretaris Desa KM (45), diamankan pihak Polres Siantar atas kasus dugaan penganiyaan anak di bawah umur.

Satu warga Nagori Mariah Jambi, SP (42) juga harus meringkuk dibalik jeruji besi RTP Polres Simalungun setelah mereka diduga menuduh seorang anak JS (13) mencuri uang, perhiasan dan handphone. Karena JS tak mengaku, mereka menganiaya korban dengan cara mengikat, dipukul dan bahkan direndam di dalam air.

Dalam press release yang digelar di Aspol Polres Simalungun di Jalan Asahan Pematangsiantar, Minggu (11/2) sekira pukul 10.00 WIB, Kasat Reskrim Polres Simalungun AKP Damos Cristian Aritonang SIK yang didampingi oleh KBO Satreskrim Polres Simalungun dan Kanit Unit Idik IV PPA Polres Simalungun Ipda Bontor Lumbantobing, mengatakan para pelaku dijerat dengan Pasal 80 Undang-undang Republik Indonasia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU RI No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, atau Pasal 333 KUHPidana, dengan ancaman hukuman 8 tahun penjara.

Kejadiannya, Selasa (25/10/2016) sekira Pukul 14.30 WIB. Saat itu salah seorang pelaku SP mendatangi rumah korban JS, dan menuduh korban mencuri uang, perhiasan dan handphone miliknya. Saat itulah terjadi penganiayaan terhadap korban dengan cara memukuli korban sembari membawanya keluar dari rumahnya, yang sebelumnya sudah diikat tangannya oleh pelaku SP.

Tak hanya SP, saat itu juga hadir pelaku lain, oknum Pangulu S dan Sekdesnya KM yang seharusnya menyelesaikan masalah, diduga malah turut ikut menganiaya korban. Tak cukup memukul, diduga korban pun kembali mendapatkan perlakuan mengenaskan, dimana menurut keterangan polisi, disaat korban JS jatuh ke tanah, sekdes KM melindas bagian leher, telinga hingga kepala korban dengan menggunakan sepedamotor.

Kemudian, para pelaku membawa korban kembali kerumahnya untuk melakukan pencarian barang yang dituduhkan oleh pelaku telah dicuri oleh korban JS, namun tidak di temukan. Diduga emosi, mengatakan kepada ibu korban, bahwa JS harus mati saat itu. Ibu JS hanya mampu menjerit dan menangis, meminta agar tidak dilakukan penganiayaan terhadap anaknya. (adi/esa)