Admin Arisan Online Buronan Poldasu, Diduga Larikan Uang Member Rp4,2 Miliar

Para korban arisan online

MetroSiantar.com – Pengelola Arisan Online Group Arisol Mak Axel berinisial TBS, kini menjadi buronan pihak Polda Sumatera Utara karena diduga melarikan uang anggota sekitar Rp4,2 miliar.

Admin sekaligus pemilik arisan online yang sebelumnya berdomisili di Kota Siantar ini, diketahui tidak lagi berada di rumah kontrakannya di Jalan Sentosa Kelurahan Siopat Suhu Kecamatan Siantar Timur, yang pernah ‘diserbu’ membernya, Kamis (14/12/2017) lalu.

“Kita masih kejar tersangka pemilk arisan online yang ada di Siantar,” ujar Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Ginting, Selasa (13/3).

Dikatakan Rina, kini pihak Direktorat Reskrimsus masih memintai keterangan para korban yang diperkirakan berjumlah 70 orang.

“Sebanyak 9 saksi korban sudah dimintai keterangannya oleh penyidik terkait kasus ini,” tukasnya.

Perlu diketahui, kasus penipuan arisan online di Kota Siantar, Sumut terkuak setelah para korban mengadu ke Polda Sumatera Utara, Senin (5/3/) lalu.

Sekira 70 warga yang menjadi korban bisnis arisan online merupakan warga Siantar, Jambi, Pekanbaru, Medan dan Bekasi. Korban mengalami kerugian uang mulai puluhan juta hingga ratusan juta rupiah.

Untuk modusnya, pelaku menawarkan bisnis kepada para korban dengan keuntungan berlipat ganda dari uang yang disetor.

Korban Kebanyakan Kenalan

Lisna, salalah satu korban yang mengalami kerugian sekitar Rp320 juta lebih, kepada METROSIANTAR, mengatakan, dirinya bergabung dengan group arisan yang dikelola Tresia Bernadetta Sigiro sejak Februari 2017. Selain main di mode duet, dirinya juga ikut di system list panjang.

“Saya sudah dua kali menerima atau disebut sebagai peminjam. Sekali Rp20 juta dan kemudian Rp40 juta. Namun seluruh uang itu saya putar kembali, termasuk uang modal saya selama ini. Totalnya Rp329 juta,”kata Lisna didampingi suaminya.
Menurut Lisna, awalnya arisan ini berjalan lancar, hingga pada sekitar Oktober 2017, Tresia mengumumkan awalnya ada 2 pemain nomor 1 yang disebut peminjam mengalami kolaps. Namun jumlah itu kemudian bertambah menjadi 6 dan terakhirnya menjadi 28 orang.

“Ketika pembayaran sudag macet, kami yang sebagai investor mempertanyakan kepada Tresia, sebagai pengelola, bagaimana nasib uang yang diinvestasikan,” kata Lisna.

Menurut Lisna, kebanyakan uang mandeg di sistem duet, pemain nomor satu disebut tidak mampu membayar.

Karena pembayaran sudah mandeg, putaran untuk sementara dihentikan dan dilakukan pertemuan yang disebut rekonsialisasi. Pemain nomor satu, termasuk seorang dari Jakarta, didatangkan dan mengakui sedang kolaps dan memang memiliki utang Rp400 juta dari group arisan yang dikelola Tresia.

Tresia mengakui akan bertanggungjawab dengan uang tersebut, dan bahkan dibuktikan dengan menandatangani kuitansi bukti penitipan uang, sejumlah uang yang telah ditransfer ke rekeningnya.

“Kami memiliki kuitansi, jumlahnya sesuai dengan uang yang ditransfer ke rekening dia. Kita hanya berharap uang kembali, karena uang tersebut uang hasil jerih payah kita,” katanya.

Sementara Nyerly Simanjuntak, salah satu korban yang membuat laporan ke Polres Siantar mengatakan, dirinya melaporkan ke polisi mengalami sekitar Rp10 juta rupiah. Pasalnya, hanya Rp10 juta yang ditransfer langsung ke rekening Tresia. Sementara total kerugiannya, termasuk suaminya, sebenarnya Rp50 juta.

“Pengumpulan uang bisa melalui Tresia langsung, jadi tidak kuitansi maka tak ada bukti yang kuat. Memang ada percakapan di pesan singkat atau wa yang menyatakan dia ada menerima uang tersebut,” katanya.

Lisna yang menjadi member sejak bulan April 2017 ini, mengenal Tresia dari suaminya yang pernah kuliah di Pekan Baru. Tresia disebutkan kuliah dan lulus dari Universitas Negeri Riau (Unri) Jurusan Hukum. (fir/esa)