Gelar Pahlawan Nasional Masih Jadi Harapan

Bagikan:
Raja Sang Naualuh Damanik dan Tuan Rondahaim.

MetroSiantar.com – Harapan masyarakat Kota Siantar dan Kabupaten Simalungun tentang penganugerahan Pahlawan Nasional kepada dua tokoh Simalungun, yakni Raja Sangnaualuh Damanik dan Raja Raya Tuan Rondahaim Saragih, masih belum terwujud di Hari Pahlawan tahun 2018.

Meski sudah beberapa kali melakukan pengusulan, setelah melalui tahapan panjang, gelar tersebut masih belum disematkan oleh pemerintah pusat.

Perhargaan tertinggi yang diberikan masih sebatas gelar Pejuang Daerah kepada Tuan Rondahaim Saragih, oleh Presiden BJ Habibie pada tahun 1999. Tuan Rondahaim Saragih juga menerima penghargaan berupa Bintang Mahaputra. Sementara untuk Raja Sangnaualuh masih belum menghasilkan sesuai harapan.

Rudi Damanik, berharap, setelah pembangunan Tugu Sangnaualuh, pihaknya berharap Pemko Siantar dan Ahli Waris melalui Yayasan Sang Naualuh kembali mengusulkan gelar Pahlawan Nasional kepada pemerintah pusat.

“Kita berharap gelar itu segera diterima oleh Opung Raja Sang Naualuh Damanik. Semoga saja,” kata Rudi Damanik.

Sementara Ketua Hasadaon Saragih Garingging Boru Pakon Panogolan Kabupaten Simalungun Garinsen Saragih Garingging mengatakan, Hasadaon Saragih Garingging sebelumnya sudah melakukan pengusulan gelar Pahlawan Nasional Tuan Rondahaim Saragih kepada pemerintah pusat. Persyaratan untuk menjadi pahlawan nasional, juga sudah dilengkapi oleh panitia yang ditunjuk, termasuk dengan menggelar seminar nasional yang mengundang sejarawan Anhar Gonggong dan kawan-kawan. Namun gelar tersebut belum diberikan oleh pemerintah.

“Kita juga berharap ke depan, dilakukan kembali pengusulan dengan melakukan perbaikan jika syarat terdahulu belum lengkap. Ini merupakan harapan kita semua, baik masyarakat Simalungun dan Siantar,” kata Garinsen Saragih.

Garinsen juga berharap, Pemkab Simalungun terus mendukung sepenuhnya upaya untuk kembali melakukan pengusulan tersebut.

Terkait bukti, sejarah mencatatkan Tuan Rondahaim Saragih, semasa hidupnya melawan penjajah Belanda, bukan hanya di Simalungun, namun hingga ke Tebing, Batubara dan Deliserdang. Bahkan Belanda memberinya gelar Napoleon dari Batak. (esa)

Bagikan: