Kasus Narkoba, Lalu Cabuli Bocah

ASN saat diamankan di kos kosannya.

Mantan Oknum Lurah Sudah Dipecat dari ASN

MetroSiantar.com – Sebelum ditangkap atas dugaan pencabulan terhadap anak di bawah umur, oknum mantan lurah berinisial ASN ternyata sudah diberhentikan dengan tidak hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemko Sibolga.

“Yang bersangkutan (ASN, red) sudah diberhentikan dengan tidak hormat sebagai PNS di lingkup Pemko Sibolga. Jadi saat ditangkap, yang bersangkutan sudah tidak lagi tercatat sebagai PNS Pemko Sibolga,” kata Sekda Kota Sibolga M Yusuf Batubara didampingi Kepala Inspektorat, Yahya Hutabarat dan Kepala BKD, Amarullah Gultom kepada New Tapanuli, Minggu (10/6) sore kemarin di Kantor Walikota Sibolga.

Menurut Yusuf, surat keputusan pemberhentian ASN sebagai PNS di Pemko Sibolga berdasarkan surat keputusan Walikota Sibolga nomor 888/141/ tahun 2018 tertanggal 12 April 2018, serta nota Dinas Inspektorat Kota Sibolga nomor 106/ND/VII/ tahun 2017 tentang laporan hasil pemeriksaan kasus terhadap PNS atas nama inisial ASN.

“Dimana oknum ASN terbukti melakukan perbuatan berupa tidak masuk kerja selama 72 hari atau melebihi 46 hari kerja tanpa alasan yang sah. Oleh tim pembinaan aparatur (Binap) menjatuhkan hukuman disiplin jenis berat yaitu Pemberhentian Tidak Dengan Hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil,” tegas Yusuf.

Bahkan, sambung Yusuf, saat diberhentikan dari jabatannya sebagai Lurah Kota Beringin, yang bersangkutan juga terbukti membawa asset kantor berupa sepeda motor dinas. Atas hal itu oknum ASN juga sudah diberikan sanksi teguran. “Selain melanggar disiplin pegawai, ASN juga terindikasi penyalahgunaan narkoba, saat Pemko Sibolga melakukan tes urine terhadap pejabat, PNS, dan tenaga honorer. Dimana saat itu, ASN terindikasi pemakai zat adiktif terlarang berupa ganja,” bebernya.

Pada kesempatan itu, Yusuf menyampaikan keprihatinan Pemko Sibolga atas peristiwa yang dialami oleh korban dengan terduga pelaku oknum ASN yang pernah menjabat lurah di Kota Sibolga tersebut.

“Harapan kita, hal memalukan seperti itu tidak lagi dilakukan oleh siapapun, termasuk ASN di lingkungan Pemko Sibolga. Hal itu sungguh tercela dan sangat memalukan, bahkan tergolong keji, apalagi korban masih di bawah umur,” ujarnya.

Korban Diiming-imingi Pinjam Handphone

Kapolres Sibolga AKBP Edwin Hatorangan Hariandja SIK MH dalam keterangan persnya melalui Kasubbag Humas Iptu Ramadhansyah Sormin, penangkapan berdasarkan laporan R (63) nenek korban.

Nenek korban menjelaskan dimana pada hari Jum’at (1/6) sekira pukul 11.00 WIB, ketika saksi sedang masak didatangi oleh Bunga (nama samaran korban)dengan mengatakan, kalau buang air kecil terasa sakit. Sehingga, dia mengurut Bunga. Namun, tetap juga Bunga merasakan sakit apabila buang air kecil sehingga saksi membawa Bunga ke Rumah Sakit.

Setelah tiba di rumah sakit pihak medis menanyakan pada saksi apakah ada yang dekat dengan Bunga dan telah mencabulinya. Sepulangnya dari rumah sakit, neneknya menanyakan Bunga, siapa yang telah mencabulinya. Dan Bunga menyebut nama tersangka ASN.

Kemudian, petugas melakukan penangkapan terhadap pria yang terakhir menjabat sebagai Kasi penyidik SatPol PP Sibolga, Sabtu (9/6). “Langsung kita amankan dari kos-kosannya,” ungkap Iptu Ramadhansyah Sormin.

Kepada penyidik, ASN mengakui perbuatannya. Diterangkannya sekilas kronologis kejadian, saat Bunga datang ke kos-kosannya ingin meminjam HP untuk bermain game. “Kejadiannya, sekitar April 2018, tanggalnya dia gak ingat. Korban datang mau minjam HP milik ASN. Setelah korban menerima,dia membawanya ke rumahnya untuk bermain game,” beber Sormin.

Beberapa saat kemudian, tersangka menyusul Bunga ke rumahnya, yang tak jauh dari kos-kosannya. Di rumah tersebut, ASN langsung mencabuli korban.

Dari data yang diperoleh, tersangka merupakan ayah dari 2 orang anak. Kini, tersangka ditahan dan telah dititipkan ke Lapas Tukka Sibolga. Atas perbuatannya, kepadanya dikenakan pasal 76E dari undang-undang RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas undang-undang RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun. (ts/rb/rah)