Setelah 7 Jam Lahir, Akhirnya Bayi Satu Mata itu Meninggal

Bayi yang lahir dengan satu mata akhirnya meninggal dunia.

MetroSiantar.com – Bayi perempuan yang lahir dengan satu mata di kening dan tanpa hidung di Rumah Sakit Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), menghembuskan nafas terakhirnya.

Anak kelima dari pasangan suami istri Tatang dan Suriyanti itu, meninggal tujuh jam setelah dilahirkan melalui proses persalinan caesar. Bayi yang lahir pada Kamis (13/9) sekitar pukul 15.30 WIB itu, meninggal sekira pukul 22.30 WIB.

Malam itu juga, ayah bayi tersebut ditemani kerabat langsung membawa anaknya menuju tempat pemakaman umum di Kelurahan Kayu Jati, Panyabungan. Setelah dibersihkan dan dikafani, bayi yang lahir dengan berat 2,4 kg itu dimakamkan tengah malam, sekitar pukul 23.30 WIB.

Hingga kemarin, kedua orangtua bayi yang merupakan pendatang dari Pulau Jawa, belum bisa diwawancarai. Mereka masih shock pasca kelahiran sekaligus kepergian anak mereka untuk selamanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Media dr Syarifuddin Nasution membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan kondisi sang bayi memang sangat memprihatinkan.

“Iya benar sudah meninggal. Tidak bertahan lama. Karena kondisi kesehatannya memang tidak baik,” katanya, Jumat (14/9).

Syarifuddin menjelaskan pihak rumah sakit sudah mencoba semaksimal mungkin menangani bayi itu. “Setiap 15 menit sekali selalu dilakukan pengecekan. Selama di rumah sakit, dia juga dipasangi alat bantu pernafasan. Itupun harus lewat mulut. Karena bayi itu terlahir tanpa hidung,” sebut Syarifuddin.

Saat lahir, kondisi badan bayi sudah membiru. Bahkan dia tidak mengeluarkan tangisan sama sekali. Selain itu denyut jantungnya sangat lemah.

“Di bawah 100 beats per minute yang merupakan angka normal. Dokter juga tampaknya sudah memperkirakannya. Karena dalam beberapa kasus, bayi bermata satu hanya bisa bertahan beberapa jam saja,” terangnya.

Sampai saat ini, belum ada dugaan pasti terkait penyebab sang bayi terlahir dengan satu mata. Namun Syarifuddin menuga kuat karena pengaruh obat-obatan dan virus rubella.

“Kita kuatnya di situ. Namun sampai saat ini ibunya belum bisa dimintai keterangan. Jawabannya masih linglung. Mungkin masih syok,” ungkapnya.

Orang tua sang bayi merupakan perantauan dari Pulau Jawa. Saat ini mereka tinggal di kawasan Kelurahan Kayu Jati, Kecamatan Panyabungan Kota, Kabupaten Mandailing Natal. Orangtua diketahui bekerja di sebuah tambang yang diduga ilegal.

Terpisah, Dokter Spesialis Jantung Anak RSUP H Adam Malik, Dr Rizki Adriansyah menyebutkan, kasus yang terjadi itu sangat jarang terjadi. Bahkan, diakuinya secara langsung dirinya belum pernah menangani. Dia menilai, berdasarkan foto yang diterima, prognosis atau prediksi ke depan bayi tersebut, sangat jelek.

Disinggung soal penyebab, dikatakan dr Rizki sangat jarang diketahui penyebab dari kelainan bawaan tersebut.

Namun, diakuinya bisa juga diketahui kondisi seperti itu, saat masih berada dalam kandungan. “Untuk diketahui, saat masih dalam kandungan, tergantung kecanggihan alat USG dan pengalaman Dokternya, “ ujar Dokter yang menjadi Sekretaris Tim Dokter penanganan bayi dempet dada yang dirawat di RSUP H Adam Malik beberapa waktu lalu. (wan/smg/ain)