Suami Suka Kelayapan

Ilustrasi

ARIEF Uyuhono (30) ini nekat betul. Statusnya masih pengantin baru, tapi bisa-bisanya dia sering tinggalkan rumah hanya untuk bercengkerama dengan perempuan jablai (jarang dibelai). Tentu saja Nining (27), istrinya tak tahan, sehingga pilih bercerai meski perkawinannya baru seumur jagung.

Dalam politik, Golkar dan PAN dikenal suka main dua kaki. Tapi jika bangunan rumahtangga berbuat seperti itu pula, alamat takkan lama. Bayangkan, sudah punya bini, suaminya kok masih suka kelayapan ketemu perempuan lain, bukan main dua kaki, tapi main “empat kaki” sekaligus. Istri cap apapun pasti akan mengkap-mengkap dadanya, seperti kap mobil ngejeblak tiba-tiba.

Nasib seperti ini dialami Ny Nining warga Pucang, Surabaya. Baru beberapa minggu menikah dengan Arief Uyuhono, ternyata baru ketahuan bahwa suaminya masih suka “nguyuh enak” di luar rumah, alias main selingkuh. Nining sungguh menyesal, kenapa saat pacaran tak mencoba ferivikasi sebagaimana KPU menyeleksi kader partai yang mau nyaleg.

Nining dulu kenal Arief Uyuhono memang terlalu cepat prosesnya. Kenal baru 3 bulan langsung naik ring. Katanya Arif khawatir terlalu lama pacaran malah disamber orang duluan. Sebab gadis seperti Nining ini banyak yang mengincar, sebagaimana Anies Baswedan ditaksir Gerindra, PKS, Demokrat, dengan syarat asalkan dipasangkan dengan kadernya.

Alasan Arief Uyuhono membuat Nining klepeg-klepeg tersanjung. Dia bukan kader partai, tapi butuh juga kather (alat vital). Mumpung ada peminat serius, tanpa cek sana cek sini seperti apa kwalitas dan elektabilitas Arief Uyuhono, langsung saja setuju dan perkawinan dilangsungkan.

Tapi anehnya, baru beberapa minggu jadi suami istri, Arief Uyuhono sudah kena penyakit “jarum super” alias jarang di rumah suka pergi. Selidik punya selidik, kepergian itu bukan untuk cari rejeki tambahan, justru kumpul-kumpul dengan sejumlah perempuan jablai.

Menurut sumber yang layak dipercaya, kebiasaan itu memang habitat lama Arief.

Rupanya, sesuai dengan mamanya, Arief Uyuhono ini memang layak dikencingi, karena kelakuannya yang suka “nguyuh enak” ke mana-mana. Baginya, menikah itu sekedar memenuhi status. Sebab tanpa menikahpun, dia punya “kebutuhan” sudah terpenuhi, justru banyak pilihan. Yang sekel nan cemekel, yang putih bersih betis mbunting padi, atau yang hitem manis; stok selalu terjamin sampai Lebaran.

Enak bagi Arief Uyuhono, tentu saja enek bagi Nining. Sebab artinya dia hanya dapat barang bekas, twede hand (tangan kedua). Kini Nining baru tahu, Arif Uyuhono yang ngakunya perjaka tingting, ternyata justru sudah terbiasa thingkrang-tingkring ke mana-mana.

Sebetulnya Nining ingin menyelamatkan perkawinannya itu. Maka dia mencoba menasihati suami, sudah punya istri hentikan kebiasaan buruk itu. Kini bukan lagi bujangan, sudah ada keluarga. Maka sebagaimana kata Pak SBY dulu, harus fokus pada istri tercinta, jangan ke mana-mana. Cinta itu mutlak untuk istri, tidak bisa dibagi-bagi macam sembako.

Tapi rupanya Arief Uyuhono memang sulit dinasihati. Hanya sehari dua hari dia menuruti kata istrinya. Habis itu kembali ke habitat lama, menemani perempuan-perempuan kesepian. Tentu saja Nining tidak tahan, sehingga akhirnya memilih bercerai saja. “Sekedar pergaulan apaan, wong nyatanya pernah sehari semalam tak pulang ternyata kencan dengan janda kesepian.” Kata Nining di ruang Pengadilan Agama Surabaya. Katanya sekedar bergaul, tapi lama-lama menggauli, kan? (jpnn)